Home
Jika Biden Sebut Ottoman Genosida Armenia, Turki Balas AS? | Bupati Siak Hadiri Acara Gemar Berzakat Sekaligus Serahkan Zakat di Kampung Rawang Kao Barat | Optimalkan Pungutan Pajak Pusat dan Daerah, Pemkab Siak Kerjasama dengan DJP dan DJPK | Munarman Curiga Jozeph Paul Zhang Agen Proxy PKC | Serapan Belanja APBN di Riau Capai 24,41 Persen, Realisasi DAK Riau Minim | Rasidah Ajak Masyarakat untuk Saling Peduli dan Tolong Menolong dengan Kaum Dhuafa
Jum'at, 23 April 2021
/ Ekbis / 09:48:52 / Heboh Bocornya Surat Sri Mulyani dan Bos Besar Freeport /
Heboh Bocornya Surat Sri Mulyani dan Bos Besar Freeport
Senin, 02 Oktober 2017 - 09:48:52 WIB

JAKARTA - Dua berita surat bocor mewarnai sektor energi dan tambang sepanjang pekan kemarin. Pertama, bocornya surat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, soal kondisi keuangan PLN. Surat itu ditujukan ke Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dan Menteri BUMN, Rini Soemarno.

Kedua, beredarnya surat CEO Freeport-McMoRan Inc, Richard Adkerson, kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Hadiyanto.

Lantas, kenapa bocornya kedua surat itu bikin heboh? Surat Sri Mulyani kepada Jonan dan Rini dirilis 19 September 2017, dengan nomor S-781/MK.08/2017 bersifat penting dan segera.

Dalam surat tersebut, Sri Mulyani menjelaskan kondisi keuangan PLN mengkhawatirkan besarnya kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang tidak didukung pertumbuhan kas bersih operasi. Ada potensi terjadinya gagal bayar.

Kondisi tersebut bakal memburuk, karena PLN harus investasi untuk program pembangunan 35.000 MW yang merupakan penugasan pemerintah.

Kekhawatiran Sri Mulyani seakan membenarkan ramalan Rizal Ramli soal kondisi keuangan PLN terkait program 35.000 MW. Rizal buka suara mengkritik 35.000 MW saat masih menjabat Menteri Koordinator Kemaritiman 2015 lalu.

Menurut Rizal, dalam 5 tahun hingga 2019, Indonesia hanya butuh pembangkit listrik dengan total kapasitas 16.000 MW. Nah, jika program 35.000 MW dipaksakan akan membuat PLN bangkrut.

"Bila 35.000 MW ini dipaksakan, maka membahayakan keuangan PLN, bahkan bisa berujung pada kebangkrutan," tutur Rizal 7 September 2015 silam.

Di sisi lain, jika mengacu laporan keuangan PLN triwulan II-2017 (unaudited), jumlah utang jangka panjang PLN mencapai Rp 299,364 triliun. Utang jangka panjang ini naik Rp 40,025 triliun dibandingkan triwulan II-2016 (audited) yang sebesar Rp 259,339 triliun.

Namun, bagi Menteri BUMN, Rini Soemarno, wajar saja seorang menteri keuangan mengirim surat seperti itu. Rini memandang surat tersebut sebagai bentuk perhatian Sri Mulyani sebagai menteri keuangan mengingatkan kondisi keuangan PLN.

"Tapi wajar bagi menteri keuangan untuk membandingkan, bahwa dia lebih khawatir dari saya. Dia harus mengingatkan kita," kata Rini di Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Sedangkan Dirut PLN, Sofyan Basir, menegaskan kondisi keuangan PLN sehat, dan dia segera menyiapkan surat balasan untuk Sri Mulyani.

"Kita saat ini punya cashflow Rp 63 triliun, belum lagi standby loan di bank (pinjaman siaga) Rp 38 triliun. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi keuangan kami sehat.

Penolakan Freeport

Setelah surat Sri Mulyani, beredar pula surat bos besar Freeport, Richard Adkerson, pada Jumat (29/9/2017). Surat bertanggal 28 September 2017 itu intinya menolak proposal pemerintah soal divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia.

Proposal tersebut dinilai tidak sesuai dengan kerangka kesepakatan antara Freeport yang diwakili Adkerson Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, beberapa waktu lalu.

Dalam poin tentang divestasi disebutkan, posisi pemerintah Indonesia soal valuasi harga divestasi 51% saham dihitung berdasarkan manfaat dari kegiatan pertambangan yang diperoleh hingga 2021. Saat itu adalah berakhirnya masa kontrak karya Freeport di Indonesia.

Freeport menolak hitungan divestasi versi pemerintah. Menurut Adkerson, divestasi harus mencerminkan nilai pasar yang wajar dari bisnis yang dijalankan Freeport hingga 2041, berdasarkan pada standar internasional dalam menilai bisnis pertambangan dan konsisten dengan hak-hak yang tercantum dalam kontrak karya.

"Para pemegang saham internasional Freeport tidak akan menerima transaksi apapun yang tak mencerminkan nilai bisnis yang wajar berdasarkan hak-hak kontraktual kami sampai 2041," tutur Adkerson dalam suratnya.

Yang jelas, Sri Mulyani belum memberi pernyataan terhadap surat bos besar Freeport. Hadiyanto pun mengaku belum menerima surat tersebut.

"Saya belum terima. Mungkin belum sampai ke saya. Itu koordinasi Kemenkeu, ESDM, dan BUMN. Itu harus ada tim yang menindaklanjuti penyelesaian divestasi," tutur Hadiyanto di kantor Kemenkeu, Jumat malam (29/9/2017). (DETIKCOM)


   
 
Ahli Ungkap Kerugian Makan Berlebih Selama Ramadhan
Senin, 19 April 2021 - 08:25

Doa Thalut Saat Perang dan Kunci Kemenangan Umat Islam
Senin, 19 April 2021 - 08:22

Gerai Lapak Pangker Resmi Kembali Difungsikan
Senin, 19 April 2021 - 08:10

Waspada Niat Jozeph Paul Zhang Diduga Menista Agama, Sampai Sebut Allah Lagi Dikurung di Ka'bah
Senin, 19 April 2021 - 08:05

Mau Masuk Istana Peraduan Sultan Siak? Begini Skemanya
Senin, 19 April 2021 - 08:02

Tambah 330, Total Kasus Covid-19 di Riau Mencapai 38.876 Orang
Senin, 19 April 2021 - 07:59

Operasi Keselamatan Lancang Kuning 2021, Satlantas Polres Siak Gelar Bakti Sosial
Sabtu, 17 April 2021 - 14:22

Bupati Siak Alfedri menyambut baik investasi yang akan dilakukan oleh PT Mitra Nusantara Shipyard(MN
Sabtu, 17 April 2021 - 14:11

16 Rumah Rusak dan Satu Bayi Tewas Akibat Puting Beliung di Inhil
Sabtu, 17 April 2021 - 14:03

Target Vaksinasi COVID-19 Untuk 8.500 Guru Pekanbaru Tuntas Bulan Juni
Sabtu, 17 April 2021 - 13:58

Meraih Keutamaan Di Bulan Ramadhan
Sabtu, 17 April 2021 - 13:53

Peduli Kaum Dhuafa dan Keluarga pra Sejahtera, TP PKK Siak Salurkan Sembako
Jumat, 16 April 2021 - 20:44

Bupati Siak Lantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Badan Permusyawaratan Kampung
Jumat, 16 April 2021 - 20:41

Penyelesaian Jalan Koridor Km 1- ke Km 7 dan Jalan Water Intek Lalang Harus Bertemu Pemilik RAPP
Kamis, 15 April 2021 - 14:30

Kasus Penggumpalan Darah, Denmark Setop Gunakan Vaksin AstraZeneca Sepenuhnya
Kamis, 15 April 2021 - 14:27

Jalan di Marpoyan Damai Pekanbaru Ditembok Pemilik Tanah, Warga Terpaksa Putar Balik
Kamis, 15 April 2021 - 14:25

Pemprov Gandeng Polda Riau Antisipasi Penimbunan Barang Jelang Lebaran
Kamis, 15 April 2021 - 14:23

Pemprov Riau Bentuk Tim Pansel untuk Pengisian Tiga Jabatan di Bank Riau Kepri
Kamis, 15 April 2021 - 14:19

Zona Merah, Rumah Ibadah di Dua RW di Pekanbaru Ditutup
Kamis, 15 April 2021 - 14:15

PKS-PPP Buka Wacana Koalisi Parpol Islam di Pilpres 2024
Kamis, 15 April 2021 - 14:13

Hasil Inspeksi BPOM: Proses Vaksin Nusantara Bermasalah
Kamis, 15 April 2021 - 14:10

Bupati Alfedri Ingin Manajemen PT BSP Tingkatkan Kinerja dan Performa Lebih Baik
Rabu, 14 April 2021 - 16:16

Tekan angka Stunting, Pemkab Siak Gelar Rembuk Stunting tingkat Kabupaten Siak
Rabu, 14 April 2021 - 16:14

Rumah Yatim Riau Bagikan Hidangan Buka Puasa untuk Anak Yatim dan Dhuafa
Rabu, 14 April 2021 - 16:11

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2020 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com