Home
Waspada, Riau akan Diguyur Hujan Lebat | Untung Vs Rugi Punya Mr P Besar dan Panjang, Ini Penjelasan Ahli | Berada di Puncak Ketenaran, Waria Ini Putuskan Jadi Pria Tulen setelah Mimpi Ditabrak Truk | Ketua Projo Ingin Jadi Wamenhan Ketimbang Wamendes | Rocky Gerung Juga Tak Paham Pancasila | Pertama Dalam Sejarah, Muhammad Masuk Daftar 10 Nama Bayi Paling Populer di Amerika Serikat
Minggu, 08 Desember 2019
/ Ekbis / 09:48:52 / Heboh Bocornya Surat Sri Mulyani dan Bos Besar Freeport /
Heboh Bocornya Surat Sri Mulyani dan Bos Besar Freeport
Senin, 02 Oktober 2017 - 09:48:52 WIB

JAKARTA - Dua berita surat bocor mewarnai sektor energi dan tambang sepanjang pekan kemarin. Pertama, bocornya surat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, soal kondisi keuangan PLN. Surat itu ditujukan ke Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dan Menteri BUMN, Rini Soemarno.

Kedua, beredarnya surat CEO Freeport-McMoRan Inc, Richard Adkerson, kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Hadiyanto.

Lantas, kenapa bocornya kedua surat itu bikin heboh? Surat Sri Mulyani kepada Jonan dan Rini dirilis 19 September 2017, dengan nomor S-781/MK.08/2017 bersifat penting dan segera.

Dalam surat tersebut, Sri Mulyani menjelaskan kondisi keuangan PLN mengkhawatirkan besarnya kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang tidak didukung pertumbuhan kas bersih operasi. Ada potensi terjadinya gagal bayar.

Kondisi tersebut bakal memburuk, karena PLN harus investasi untuk program pembangunan 35.000 MW yang merupakan penugasan pemerintah.

Kekhawatiran Sri Mulyani seakan membenarkan ramalan Rizal Ramli soal kondisi keuangan PLN terkait program 35.000 MW. Rizal buka suara mengkritik 35.000 MW saat masih menjabat Menteri Koordinator Kemaritiman 2015 lalu.

Menurut Rizal, dalam 5 tahun hingga 2019, Indonesia hanya butuh pembangkit listrik dengan total kapasitas 16.000 MW. Nah, jika program 35.000 MW dipaksakan akan membuat PLN bangkrut.

"Bila 35.000 MW ini dipaksakan, maka membahayakan keuangan PLN, bahkan bisa berujung pada kebangkrutan," tutur Rizal 7 September 2015 silam.

Di sisi lain, jika mengacu laporan keuangan PLN triwulan II-2017 (unaudited), jumlah utang jangka panjang PLN mencapai Rp 299,364 triliun. Utang jangka panjang ini naik Rp 40,025 triliun dibandingkan triwulan II-2016 (audited) yang sebesar Rp 259,339 triliun.

Namun, bagi Menteri BUMN, Rini Soemarno, wajar saja seorang menteri keuangan mengirim surat seperti itu. Rini memandang surat tersebut sebagai bentuk perhatian Sri Mulyani sebagai menteri keuangan mengingatkan kondisi keuangan PLN.

"Tapi wajar bagi menteri keuangan untuk membandingkan, bahwa dia lebih khawatir dari saya. Dia harus mengingatkan kita," kata Rini di Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Sedangkan Dirut PLN, Sofyan Basir, menegaskan kondisi keuangan PLN sehat, dan dia segera menyiapkan surat balasan untuk Sri Mulyani.

"Kita saat ini punya cashflow Rp 63 triliun, belum lagi standby loan di bank (pinjaman siaga) Rp 38 triliun. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi keuangan kami sehat.

Penolakan Freeport

Setelah surat Sri Mulyani, beredar pula surat bos besar Freeport, Richard Adkerson, pada Jumat (29/9/2017). Surat bertanggal 28 September 2017 itu intinya menolak proposal pemerintah soal divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia.

Proposal tersebut dinilai tidak sesuai dengan kerangka kesepakatan antara Freeport yang diwakili Adkerson Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, beberapa waktu lalu.

Dalam poin tentang divestasi disebutkan, posisi pemerintah Indonesia soal valuasi harga divestasi 51% saham dihitung berdasarkan manfaat dari kegiatan pertambangan yang diperoleh hingga 2021. Saat itu adalah berakhirnya masa kontrak karya Freeport di Indonesia.

Freeport menolak hitungan divestasi versi pemerintah. Menurut Adkerson, divestasi harus mencerminkan nilai pasar yang wajar dari bisnis yang dijalankan Freeport hingga 2041, berdasarkan pada standar internasional dalam menilai bisnis pertambangan dan konsisten dengan hak-hak yang tercantum dalam kontrak karya.

"Para pemegang saham internasional Freeport tidak akan menerima transaksi apapun yang tak mencerminkan nilai bisnis yang wajar berdasarkan hak-hak kontraktual kami sampai 2041," tutur Adkerson dalam suratnya.

Yang jelas, Sri Mulyani belum memberi pernyataan terhadap surat bos besar Freeport. Hadiyanto pun mengaku belum menerima surat tersebut.

"Saya belum terima. Mungkin belum sampai ke saya. Itu koordinasi Kemenkeu, ESDM, dan BUMN. Itu harus ada tim yang menindaklanjuti penyelesaian divestasi," tutur Hadiyanto di kantor Kemenkeu, Jumat malam (29/9/2017). (DETIKCOM)

   
 
Polisi Tahan Jafar Shodiq Tersangka Penghinaan Maruf Amin
Jumat, 06 Desember 2019 - 15:26

KPK Periksa 11 Saksi Dalam Kasus Korupsi Proyek Jembatan Bangkinang
Jumat, 06 Desember 2019 - 15:15

Akibat Kurang Gizi, 1.170 Balita di Meranti Alami Stunting
Jumat, 06 Desember 2019 - 15:07

Makan Nasi Bersamaan dengan Telur, Ternyata Bahayakan Kesehatan!
Jumat, 06 Desember 2019 - 14:56

Kasus Suap Pembangunan Jalan di Bengkalis, KPK Periksa Dirut PT Darmali Jaya Lestari
Jumat, 06 Desember 2019 - 14:53

14 Desember Ujian CAT Panwascam, Bawaslu Pelalawan Cek Persiapan
Jumat, 06 Desember 2019 - 14:49

Viral Bahaya Injak Kecoa Bikin Cacing Masuk ke Kulit, Ini Faktanya
Jumat, 06 Desember 2019 - 14:47

Penyebab dan Bahayanya Serangan Tawon Endhas yang Teror Warga
Jumat, 06 Desember 2019 - 09:10

Bercerai, UAS: Allah Berkuasa Atas Semua Takdir Manusia
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:57

Sejumlah Tokoh Minta PMA Majelis Taklim Dicabut
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:46

Perbaikan Fasilitas Stadion Utama Riau Butuh Anggaran Fantastis
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:38

Pilkades Serentak 2019 di Kelayang dan Rakitkulim Berjalan Lancar dan Aman
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:34

DPRD Pekanbaru Siap Bersinergi dengan Pemprov Riau Membenahi Stadion Utama
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:31

KPK: Hati-hati Dengan Investasi Perusahaan China
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:29

Karmin Kalahkan 3 Rivalnya Dalam Pilkades Serentak Desa Perkebunan Sungai Parit
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:08

Pertamina Sebut Gas 3Kg Langka Akibat Penyaluran Tak Tepat Sasaran
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:06

Kabur Setelah Sodomi 7 Muridnya, Guru Honor di Peranap Ditangkap di Kepri
Jumat, 06 Desember 2019 - 07:58

Gerhana Matahari Cincin Paling Ideal Disaksikan di Desa Bunsur, Siak
Kamis, 05 Desember 2019 - 21:05

DPRD Riau Bantah Dana Hibah Tak Dianggarkan karena Salah Banggar
Kamis, 05 Desember 2019 - 21:01

Ichsanuddin Noorsy: Sri Mulyani Sedang Ajak Rakyat Menikmati Ketersesatan
Kamis, 05 Desember 2019 - 20:19

Sepanjang Tahun 2019, 540 Kendaraan Menunggak Pajak
Kamis, 05 Desember 2019 - 20:13

Harga CPO Sentuh Level Overbought
Kamis, 05 Desember 2019 - 20:10

Soal Habib Rizieq Shihab, Jokowi Diminta Tiru Megawati
Kamis, 05 Desember 2019 - 20:05

Dana Hibah Rumah Ibadah di APBD Riau 2020 Dicoret?
Kamis, 05 Desember 2019 - 14:21

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com