Home
Dokumen Tak Lengkap, Partai Idaman dan 12 Parpol Tak Ikut Pemilu | Wapres Jusuf Kalla Bela Anies Baswedan soal "Pribumi" | Tanggul Jebol, Limbah Pabrik PKS PT EMA Kepenuhan Cemari Sungai | Pakar Kritisi Sifat Kegentingan Memaksa Perppu Ormas | Ini Alasan JK tak Setuju Densus Tipikor | Soal Reklamasi, Luhut: Silahkan Anies dan Sandi Temui Saya
Rabu, 18 Oktober 2017
/ Ekbis / 07:56:19 / Harga Karet Anjlok Paksa Warga Riau jadi TKI /
Harga Karet Anjlok Paksa Warga Riau jadi TKI
Kamis, 12 Oktober 2017 - 07:56:19 WIB

PEKANBARU - Masyarakat Kepulauan Meranti, Riau, yang umumnya bekerja sebagai penderes getah, beberapa tahun belakangan ini terpaksa harus hilir mudik ke Malaysia untuk mencari nafkah, sebab hasil getah di daerah itu tidak lagi menjanjikan bagi kehidupan masyarakat desa.

Seperti pengakuan Ramli, warga Desa Kayu Ara Kecamatan Rangsang Pesisir kepada RIAUBOOK.COM Sabtu pekan lalu. Ia dan temannya terpaksa mencari kerja di Malaysia. Karena beberapa tahun belakangan ini harga 1 Kg getah di Meranti tidak mampu membeli satu kilo beras.

Satu kilo getah selama ini hanya berkisar Rp. 3 ribu hingga 4 ribu perkilo. Sedangkan beras paling murah suah Rp.9 ribu/ kg. Itu artinya hasil getah sekilo tidak dapat membeli beras satu kilo.

"Jadi para pemuda dan pria yang sudah berkeluarga terpaksa merantau ke negara jiran untuk menjamin dapur tetap berasap," katanya.

Ia katakan, selain harga yang sudah terjun tersebut, juga diperparah oleh tingginya curah hujan yang terjadi belakangan ini. Sementara anak dan istri tidak bisa ditunda dalam kebutuhan makan setiap hari.

Apapun yang terjadi, menurut dia perut harus tetap diisi. Apalagi anak sudah ada yang sekolah, mau tidak mau harus ada uang beli buku maupun peralatan sekolah termasuk uang jajan.

"Jadi walau dengan cara haram kata orang seberang masuk ke Malaysia, hal itu terpaksa kami lakukan, jika tidak ingin mati kelaparan di kampung ini," katanya lagi

Ramli menyebutkan, entah sampai kapan harga getah akan membaik, hal itu tidak bisa dipastikan. Sebab semua harga komoditas pertanian dan perkebunan itu terutama di kampungn kita ini ditentukan sepenuhnya oleh para tengkulak-tengkulak.

Untuk itulah masyarakat desa dari dulu berharap kepada pemerintah agar mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan ini.

Apakah membuka lahan perkebunan seperti kebun nanas atau komoditi lainnya. Sehingga selain menjadi daerah produsen, masyarakat Meranti nantinya akan mendapat kesempatan kerja.

“Kami di desa ini menunggu kebijakan pemerintah, untuk menolong masyarakat sebab jika toh pemerintah tidak kunjung membuka lapangan kerja, maka selamanya kami yang tidak memiliki sekolah yang cukup ini, akan selamanya menjadi TKI ilegal di negara tetangga itu," katanya.

Menjadi TKI Ilegal di Malaysia, lanjut dia, memiliki cerita trauma dan tragis. Kadang, katanya, harus lari ke hutan di tengah malam gelap gulita, untuk menghidari kejaran Polisi. "Atau kadang upah kerja tidak dibayar majikan, jika tidak ingin keberadaan kami diketahui polisi setempat.

Banyak dukanya dari pada suka, apalagi setiap pulang dan perginya senantiasa mempertaruhkan nyawa di tengah laut," kata dia mengakhiri. (MCr)

   
 
Politisi Sebut Taj Mahal Bukan Budaya India
Rabu, 18 Oktober 2017 - 08:22

Karni Ilyas Ungkap Reporternya Diusir di Kawasan Reklamasi
Rabu, 18 Oktober 2017 - 08:18

Panglima: Jangan Sekali-kali Kita Jadi Pengkhianat Bangsa
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:47

Bupati Inhil Paparkan Potensi Daerah Di Hadapan Investor Malaysia
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:40

Setdaprov Riau Sebut Realisasi APBD Baru Mencapai 47,5 Persen
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:37

Berikut Harga Kelapa Sawit Minggu Ini
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:32

Tanjak Dirancang Jadi Ikon Souvenir di Riau
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:30

Polres Siak dan Pemkab Siak MoU Untu Rekrutmen Polri
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:25

Pemko Selesaikan Ganti Rugi Lahan Jalan Soebrantas
Rabu, 18 Oktober 2017 - 05:23

Ini Pesan JK untuk Anies-Sandi Bangun Jakarta
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:44

Demokrat Jakarta: Anies Mau Tunjukkan Diri Berpihak Pada Warga Miskin
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:42

Giliran Organda Sumbar Tolak Angkutan Online Beroperasi
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:40

Sandiaga Uno Penuhi Nazar, Tak Bakal Terima Gaji Sebagai Wagub
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:37

Sekdaprov Riau Ungkap Alasan Anggaran Beasiswa Dicoret
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:30

Dispar Riau Kembangkan Tanjak Melayu Sebagai Souvenir
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:26

Gerombolan IQ Satu Digit
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:20

Anies Tegaskan Masih Tolak Reklamasi
Selasa, 17 Oktober 2017 - 16:09

Dewan Inhil Sebut Banyak Masyarakat Miskin Belum Tercover Kuota BPJS
Selasa, 17 Oktober 2017 - 15:55

Bupati dan Kapolres Inhil Sepakat Bina Siswa Berprestasi
Selasa, 17 Oktober 2017 - 15:54

Harris- Yopi Maju Di Pilgubri, Ini Kemungkinan Terbesarnya
Selasa, 17 Oktober 2017 - 13:08

BRK Raih Juara I Lomba Perpustakaan Khusus Tingkat Provinsi Riau 2017
Selasa, 17 Oktober 2017 - 12:57

215 mahasiswa Stikes hang tuah Pekanbaru belajar di Siak
Selasa, 17 Oktober 2017 - 12:49

RTRW, Pemprov Tunggu Keputusan Pusat
Selasa, 17 Oktober 2017 - 12:44

Luhut: Enggak Ada Pribumi dan Non Pribumi
Selasa, 17 Oktober 2017 - 12:38

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com