Home
Jembatan Sementara Pulihkan Lalu Lintas Padang-Bukittinggi | Gerindra Ingatkan Jokowi: Jangan Berlebihan, Kekuasan Akan Berganti | Komunitas Goresan Emas Memulai Rangkaian Goes to School ke SMA di Inhil | Pemprov Riau Gesa Penyelesaian Pembangunan Fasilitas Tambahan Embarkasi Haji Antara | Riau Bersiap Menerapkan Wisata Religi | Harga TBS Sawit di Riau Menunjukkan Tren Positif
Kamis, 13 Desember 2018
/ Peristiwa / 20:38:04 / Jika 7 Hari Tak Ditangkap Petugas, Warga Ancam Bunuh Harimau Bersama-Sama /
Jika 7 Hari Tak Ditangkap Petugas, Warga Ancam Bunuh Harimau Bersama-Sama
Senin, 12 Maret 2018 - 20:38:04 WIB

PEKANBARU - Ratusan warga memberi ultimatum kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau karena teror serangan harimau sumatera yang menewaskan seorang warga di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

"Kami beri tenggat satu minggu. Hidup atau mati harus dapat (ditangkap)," kata Rudi (45), salah seorang warga Pelangiran saat dihubungi wartawan dari Pekanbaru, Senin.

Ultimatum tersebut disampaikan Rudi bersama dengan 500 warga menyusul kematian Yusri Efendi (34) akibat diterkam harimau pada Sabtu pekan lalu (10/3). Yusri meninggal saat sedang bekerja membangun sarang walet di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir.

Dalam insiden ini, korban bukan merupakan warga setempat, melainkan warga asal Desa Danau Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Sementara, warga yang memberi ultimatum tersebut juga berasal dari Desa Danau Pulau Muda. Dua kecamatan itu secara lokasi bertetangga.

"Kalau seminggu tidak dapat ditangkap, kita akan turun memburu harimau ini bersama-sama," ujarnya.

Terpisah, Kepala BBKSDA Riau Suharyono kepada Antara membenarkan ultimatum tersebut. Bahkan, Suharyono menuturkan ultimatum itu terangkum dalam sebuah surat bertulis tangan. Surat itu berisi tiga tuntutan.

Pertama, pihak masyarakat meminta BKSDA Riau secepatnya "membunuh" hewan ganas tersebut dalam waktu tujuh hari. Selanjutnya, jika tidak ada tindakan maka masyarakat akan mengambil tindakan sendiri untuk membunuh hewan ganas secara bersama-sama.

Dalam surat dengan tulisan tangan pada secarik kertas bermaterai turut ditandatangani oleh perwakilan masyarakat, perusahaan PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP) serta perwakilan BKSDA Riau.

Suharyono mengatakan bahwa bahasa "membunuh" bukan merupakan bahasa BKSDA. Dia menuturkan, anggotanya dipaksa menandatangani surat tersebut lantaran dalam kondisi dipaksa masyarakat.

"Tadi tim dipaksa untuk tanda tangan, tim dipaksa membunuh oleh masyarakat. Ini bukan bahasa kami. Kami akan upayakan segera mungkin untuk evakuasi, tapi namanya hewan liar resiko yang sangat tinggi, kami tetap memperhitungkan (faktor keselamatan)," ujarnya.

Lebih jauh, hari ini dia menuturkan BKSDA Riau kembali mengirim 24 personel tambahan untuk menangkap harimau tersebut. Personel itu turut dilengkapi dengan senjata bius.

Untuk diketahui, beberapa bulan sebelum insiden tewasnya Yusri, awal Januari 2018 lalu seorang warga bernama Jumiati juga meninggal dunia karena insiden yang sama, diserang harimau. Perempuan berusia 33 tahun itu meninggal saat sedang melakukan perawatan sawit di tempat ia bekerja, PT Tabung Haji Indo Plantantion (THIP).

Sebenarnya, pasca insiden pertama, tim BBKSDA Riau telah diturunkan untuk menangkap dan menyelamatkan harimau tersebut. Tim tersebut terdiri dari TNI, Polisi dan sejumlah pegiat satwa dilindungi.

10 perangkap juga telah dipasang. Perangkap-perangkap berbentuk kotak berisi kambing jantan dan babi hutan menyebar di sekitar lokasi itu.

Begitu juga kamera pengintai, yang dipasang di setiap sudut dimana perangkap itu berada. Namun, selama lebih kurang dua bulan pencarian, belum ada perkembangan berarti.

Di sekitar TKP, ia mengatakan terpantau dua ekor harimau Sumatera. Keduanya berjenis kelamin betina, berusia sekitar empat tahun. Untuk mempermudah identifikasi, BBKSDA Riau memberi nama keduanya dengan nama Boni dan Bonita.

Dalam kejadian ini, Bonita diduga kuat pelaku penerkam warga. Pasalnya, Jumiati sebelumnya tewas ditangan Bonita. Bonita juga disebut mengalami perubahan prilaku pasca menerkam Jumiati. Diantaranya, tidak sungkan untuk bertemu dan mendekati manusia. Sementara, harimau normal akan menghindar dan lari saat melihat kerumunan manusia.

Beberapa kali pula warga melihat Bonita berkeliaran di areal perkebunan sawit. Tidak sedikit gambar rekaman Bonita berkeliaran di perkebunan sawit direkam warga. Namun, untuk memastikan hal tersebut, Hutomo mengatakan pihaknya masih terus mendalaminya. [antara]

   
 
BPN Prabowo-Sandi: Alhamdulillah, Biang Fitnah Sudah Dukung Jokowi
Rabu, 12 Desember 2018 - 11:18

Lurah di Pekanbaru Diminta Kerahkan Massa saat Jokowi Datang ke Riau
Rabu, 12 Desember 2018 - 11:10

Pemkab Kampar Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir
Rabu, 12 Desember 2018 - 11:07

Basarnas Pekanbaru Cari Anak Hilang Terseret Banjir
Rabu, 12 Desember 2018 - 11:05

KPPBC Tipe Madya Pabean Tembilahan Lakukan Pemusnahan Barang Hasil Penindakan
Rabu, 12 Desember 2018 - 09:52

IKJR Inhil Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H
Rabu, 12 Desember 2018 - 09:48

Kabupaten Inhil Terima Penghargaan Kepahutan Standar Pelayanan dari Ombudsman RI
Rabu, 12 Desember 2018 - 09:44

Diera Digital Hendaknya Menjadi Inovasi untuk Pelayanan di Rumah Sakit
Rabu, 12 Desember 2018 - 09:41

Bupati Siak Pimpin Rapat tentang Persiapan Penyerahan Sertifikat TORA
Rabu, 12 Desember 2018 - 09:36

Badan Pemenangan Prabowo-Sandi Pindah ke Jateng, Kubu Jokowi Waspada
Selasa, 11 Desember 2018 - 14:05

Di Survei Internal, Elektabilitas Prabowo-Sandi Dalam Tren Meningkat
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:58

Petani Riau Merugi Akibat Banjir
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:55

Realisasi Pembangunan Pekanbaru 75 Persen Terkendala Anggaran
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:53

Banjir Kampar Riau Lumpuhkan Aktivitas Sekolah
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:50

Waspada! PLTA Masih Buka 5 Pintu Pelimpahan Setinggi 150 Cm
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:44

Pekanbaru Dikepung Banjir, Basarnas dan BPBD Kerahkan Perahu Karet
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:43

LAM Beri Jokowi Gelar Adat Karena Riau Bebas Asap dan Rebut Blok Rokan, Ini Kata Gerindra
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:41

Ummat Muslim Dumai Diajak Jihad Politik di Tahun 2019
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:37

Wabup Inhil Tinjau Kondisi Jalan Sungai Beringin Tembilahan
Selasa, 11 Desember 2018 - 13:35

Ada Kiai Maaruf, Kenapa Umat Islam Masih Dukung Prabowo Subianto?
Senin, 10 Desember 2018 - 10:43

Diduga Melakukan Penghinaan, Mahasiswa Polisikan Rektor
Senin, 10 Desember 2018 - 10:39

Buaya Terperangkap di Salurkan Irigasi Kuansing Saat Banjir
Senin, 10 Desember 2018 - 10:24

OJK Belum Terima Nama Calon Dirut Bank Riau Kepri
Senin, 10 Desember 2018 - 10:23

Kejati Riau SP3 Dugaan Tindak Pidana Korupsi RTH
Senin, 10 Desember 2018 - 10:21

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com