Home
Mengapa Harga Hunian di Jakarta Makin Mahal? | Andi Arief: Terlalu Dini Menyimpulkan Pelaku Perusakan Atribut Demokrat Disuruh PDIP | BPN Prabowo-Sandi: Perusakan Spanduk SBY Nodai Keindahan Demokrasi | Hinca: Perusak Bendera Demokrat di Riau Dibayar Rp100 Ribu | Aktivis Berharap Presiden Perhatikan Korban Banjir Riau | Polresta Pekanbaru Tangkap Perusak Atribut Partai Demokrat Saat Kunjungan SBY
Sabtu, 15 Desember 2018
/ Politik / 07:45:37 / Genderuwo - Sontoloyo dan Lunturnya Politik Simbol Jokowi /
Genderuwo - Sontoloyo dan Lunturnya Politik Simbol Jokowi
Selasa, 13 November 2018 - 07:45:37 WIB

JAKARTA - Beberapa waktu belakangan, Presiden Joko Widodo yang juga calon presiden petahana membuat kejutan untuk publik dengan pernyataan frontal dalam pidatonya.

Saat membagikan sertifikat tanah bagi warga Jakarta Selatan, Selasa (22/10), Jokowi mengingatkan masyarakat akan bahaya politikus sontoloyo. Menurutnya politikus sontoloyo memengaruhi masyarakat dengan isu-isu tak jelas.

Mantan Wali Kota Solo itu tak menyebut siapa politikus sontoloyo yang ia maksud. Pidato itu pun direspons berbagai kalangan. Bahkan Fadli Zon, Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra, membalasnya dengan puisi berjudul 'Ada Genderuwo di Istana'.

Tak berhenti di situ, Jokowi kembali membuat retorika ofensif saat mengunjungi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11). Kali ini Jokowi memakai istilah politik genderuwo sebagai gaya politik yang hanya menakut-nakuti masyarakat.

Lagi-lagi pidato Jokowi memicu perdebatan. Fadli Zon dan musisi Ahmad Dhani pun membuat puisi dan lagu 'Sontoloyo' sebagai kritik balasan.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya 'politik genderuwo', nakut-nakuti," kata Jokowi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Pernyataan keras Jokowi dalam beberapa waktu belakang dinilai melenceng dari gaya politiknya selama ini. Jokowi dikenal dengan politik simbol ala Jawa. Biasanya ia menanggapi serangan politik bukan dengan verbal.

Misalnya pada 17 Juni 2016 saat kapal-kapal China masuk ke zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna dan melakukan pencurian ikan tanpa izin. Jokowi langsung menggelar rapat terbatas di atas geladak kapal perang Imam Bonjol lima hari setelah kejadian.

Atau saat Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyindir ambisi Jokowi membangun infrastruktur. Jokowi langsung menyindir balik dengan mendatangi Kompleks Olahraga Hambalang. Seperti diketahui, kasus korupsi pembangunan Hambalang menyeret beberapa elite Partai Demokrat dan terjadi ketika SBY berkuasa.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Siti Zuhro, mengatakan memang ada perubahan gaya politik dari Jokowi. Siti menyebut perubahan gaya politik Jokowi tidak terlepas dari serangan dari kubu penantang, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Kedua kubu dinilai belum memiliki komitmen tinggi pada kampanye damai.

"Sehingga yang terjadi perilaku frontal, berhadap-hadapan betul, tidak tedeng aling-aling lagi," ujar Siti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/11).

Siti berujar sebenarnya keputusan Jokowi untuk tampil lebih frontal sangat riskan. Pasalnya selama periode pertama, publik simpati kepada Jokowi karena politik simbol yang mencerminkan budaya tinggi.

Dalam survei LIPI yang dirilis Juli lalu, masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih pemimpin yang sederhana dan merakyat ketimbang berwibawa.

Pemimpin sederhana dan merakyat mendapat skor 95,38 persen, sedangkan pemimpin berwibawa 92,19 persen.

Survei ini dilakukan terhadap 2.100 responden dengan metode multistage random sampling di 34 provinsi pada 19 April-5 Mei 2018. Margin of error yang digunakan 2,14 persen.

"Preferensi masyarakat itu tidak bisa dijaga Pak Jokowi. Orang kan memilih menu sederhana dan merakyat. Kalau sekarang menunya beda lagi, ya orang enggak nafsu, ibaratnya seperti itu," ujar Siti.

Terpisah, pengamat politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti mengatakan sebenarnya kekuatan Jokowi terletak pada gaya lamanya, diam dan membiarkan simbol bermain.

Dengan meladeni perlawanan dengan istilah-istilah kontroversial, Ray menyebut Jokowi menambah kabur substansi kampanye.

"Akhirnya, publik kita hanya ribut soal ungkapan yang sebenarnya tidak perlu. Dan wajah kampanye kita hanya seperti bertarung mengungkapkan ungkapan yang saling menyindir, belum masuk ke soal-soal substantif," tutur Ray dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (12/11).

Dia menuturkan, seharusnya Jokowi dan juga Prabowo mulai melakukan perdebatan dalam hal substantif. Pasalnya mayoritas masyarakat Indonesia masih minim literasi politik.

"Pada masyarakat yang literasinya masih berkutat pada simbol, kulit dan permukaan, pesan dari simbol tersebut justru terlupakan," tutur dia.

[Cnnindonesia.com]

   
 
Baru 14,7 Persen UMKM Riau Manfaatkan KUR
Jumat, 14 Desember 2018 - 16:22

Enam Warga Meninggal Dalam Bencana Banjir Riau
Jumat, 14 Desember 2018 - 16:19

Chevron Bantu 15 Bibit Sapi Peternak Riau
Jumat, 14 Desember 2018 - 16:15

Turap Sungai Rokan Amblas, BWS Diminta Tanggung jawab
Jumat, 14 Desember 2018 - 16:13

Jembatan Sementara Pulihkan Lalu Lintas Padang-Bukittinggi
Kamis, 13 Desember 2018 - 14:23

Gerindra Ingatkan Jokowi: Jangan Berlebihan, Kekuasan Akan Berganti
Kamis, 13 Desember 2018 - 14:19

Komunitas Goresan Emas Memulai Rangkaian Goes to School ke SMA di Inhil
Kamis, 13 Desember 2018 - 14:12

Pemprov Riau Gesa Penyelesaian Pembangunan Fasilitas Tambahan Embarkasi Haji Antara
Kamis, 13 Desember 2018 - 14:00

Riau Bersiap Menerapkan Wisata Religi
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:59

Harga TBS Sawit di Riau Menunjukkan Tren Positif
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:57

Sandi Tuding Utang BUMN Meroket karena Politik Jokowi
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:52

Diundang LAM Riau, SBY Tidak akan Datang Acara Penabalan Gelar Jokowi
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:48

Peringatan Dini, Waspadai Hujan Lebat Disertai Petir pada Malam Hari di Riau
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:41

Selama Kedatangan Jokowi, RTH Kaca Mayang Tertutup untuk Umum
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:39

Perpustakaan Pekanbaru Terima 2.585 Buku Berbahasa Asing
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:36

Basarnas Pekanbaru Temukan Warga Hilang Terseret Banjir
Kamis, 13 Desember 2018 - 13:34

Penyelesaian Konflik Dua Serikat Kerja Masih Nyangkut di Polres Dumai
Rabu, 12 Desember 2018 - 20:32

23.091 Hektare Kebun Sawit Siak Perlu "Peremajaan"
Rabu, 12 Desember 2018 - 20:18

Anggota DPRD Riau minta Perusahaan segera Bantu Korban Banjir
Rabu, 12 Desember 2018 - 20:16

Basarnas Pekanbaru Evakuasi 450 Santri Korban Banjir
Rabu, 12 Desember 2018 - 20:14

58 Nelayan Siak Belum Terdaftar Kartu Asuransi
Rabu, 12 Desember 2018 - 20:08

Polres Inhil Tangkap Karyawan Swasta Pelaku Pencurian Motor
Rabu, 12 Desember 2018 - 20:05

Zakat dan Shodaqoh Wujud Pengamalan Al Quran di Negeri Istana
Rabu, 12 Desember 2018 - 19:52

La Nyalla Siap Potong Leher, Tim Prabowo: Caper Jangan Berlebihan
Rabu, 12 Desember 2018 - 11:27

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com