Home
Ustaz Khalid Basalamah: Jangan Memukul Wajah Manusia | PUPR Revitalisasi Taman Patung Kuda | Jokowi: Kasus Novel Jangan Sedikit-sedikit ke Saya, Tugas Kapolri Apa? | Polisi Serahkan 334 Tersangka Kerusuhan 21-22 Mei Ke Kejaksaan | Rizal Ramli: Jangan Sampai Pimpinan KPK Didominasi Polisi, Bisa Coupe de Grace | Pemprov Riau Terus Kaji Porsi APBD-P
Jum'at, 19 Juli 2019
/ Riau Region / 15:14:47 / Peneliti Jepang Ingatkan Ancaman Tenggelamnya Pulau Bengkalis Akibat Abrasi /
Peneliti Jepang Ingatkan Ancaman Tenggelamnya Pulau Bengkalis Akibat Abrasi
Rabu, 19 Juni 2019 - 15:14:47 WIB

PEKANBARU - Peneliti Universitas Yamaguchi, Jepang, Profesor Koichi Yamamoto mengingatkan pemerintah Provinsi Riau tentang ancaman tenggelamnya Pulau Bengkalis yang berkontur lahan gambut akibat abrasi yang belum dapat diatasi dengan baik.

"Gambut mengalami longsor atau peat slide dan terburai ke laut atau bog burst. Pemicu proses ini, selain deforestasi dan alih guna lahan gambut juga (akibat) masifnya kanalisasi sebagai upaya drainasi dalam pembangunan perkebunan," kata Yamamoto dalam keterangan pers yang diterima Antara di Pekanbaru, Rabu.

Yamamoto menyampaikan hal tersebut dalam diskusi ilmiah tentang ancaman Erosi dan Abrasi Lahan Pesisir Pulau Gambut yang diselenggarakan Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Riau awal pekan ini.

Ahli Enviromental Engineering dan Sediment Transport itu telah melakukan penelitian selama enam tahun terakhir di Pulau Bengkalis, salah satu pulau yang berada di pesisir Riau dan tepat berlokasi di bibir Selat Malaka.

Dalam diskusi tersebut, Yamamoto menyoroti salah satu aspek penting yang ia jumpai di lapangan, yaitu “peat failure” dan dampaknya bagi pulau-pulau gambut di Riau, termasuk Pulau Bengkalis.

Ia menuturkan masifnya kanalisasi sebagai upaya drainasi dalam pembangunan perkebunan menjadi penyumbang terbesar ancaman itu. "Kanal-kanal mengiris kubah gambut dan mengoyakkan keutuhan lahan gambut. Akibatnya, ketika hujan deras turun bongkahan-bongkahan gambut longsor dan terburai ke arah laut," jelasnya.

Proses ini, katanya, sangat degeneratif dan mengancam eksistensi pulau-pulau gambut dalam jangka panjang. "Melaui proses ini, daratan pulau gambut bisa lenyap dengan laju mencapai 40 meter pertahun," tuturnya.

Fenomena lain yang menarik yang ditemukan peneliti Jepang ini adalah munculnya beting-beting gambut yang ia sebut “temporary peat fan” di sepanjang garis pesisir. Beting-beting ini tidak lain merupakan sebagian massa gambut yang terburai ke laut dan terhanyut balik ke pesisir. "Orang Melayu menyebutnya serpihan gambut ini sesai," katanya.

Yamamoto mengungkapkan bahwa umumnya beting-beting yang dibentuk sesai sangat tidak stabil dan biasanya terburai ulang dalam jangka hitungan bulan atau tahun. Meskipun demikian, ia menemukan bahwa di lokasi yang tepat beting gambut bisa stabil dan bahkan membentuk daratan baru.

Proses yang menjadi kebalikan dari erosi atau abrasi pesisir ini disebut akresi. Dalam hal ini, hasil akresi muncul di ujung barat laut Pulau Bengkalis. Salah satu faktor yang menentukan stabilitas daratan baru ini adalah kehadiran vegetasi mangrove yang perakarannya menjadi penggenggam lumpur maupun sesai.

Diskusi ilmiah yang ditaja sebagai “2nd PSB Peat Circle” dan berlangsung di auditorium LPPM Universitas Riau ini dihadiri oleh hampir 50 orang peserta yang terdiri para dosen dan mahasiswa serta umum.

Ketua PSB Dr Sigit Sutikno menyatakan kehadiran Prof Yamamoto dan para mahasiswanya di Riau sekaligus menjadi pengingat bagi para peneliti lokal untuk lebih peduli terhadap berbagai perubahan lingkungan di wilayah ini.

Sigit kepada Antara mengatakan Yamamoto turut menyarankan sejumlah strategi dalam mengatasi ancaman abrasi. Diantaranya adalah dengan membangun pemecah gelombang (wave breakers) yang dapat sekaligus berfungsi sebagai penangkap sedimen (sediment traps).

Hanya saja, ia mengatakan selama ini Riau kerap terkendala dengan sulitnya sumber batu. Sementara jika pemecah gelombang dicetak di Riau, maka membutuhkan dana yang tidak sedikit.

"Riau jauh dari sumber batu, maka kalau pemecah gelombang ini dicetak dari beton biayanya sangat mahal, dan menjadi "limbah padat" permanen," ujarnya.

Lebih iau, ia mengatakan terdapat alternatif lainnya yakni dengan penelitian yang melibatkan akademisi dan peneliti Universitas Riau melalui pengembangan teknologi hibrid. Teknologi tersebut dapat memadukan hal-hal yang diciptakan manusia dan bersifat anorganik dengan hal-hal yang sifatnya organik. "Termasuk meningkatkan potensi pemulihan diri secara ekologis dari alam setempat," urainya. [Antara]

   
 
62 Dewan Hakim MTQ di Kukuhkan Bupati Alfedri
Kamis, 18 Juli 2019 - 13:05

Lantik 11 Pejabat Penghulu Mempura-Dayun,
Alfedri Mohon Dukungan Hijrahkan Koperasi ke Sistem Syariah
Kamis, 18 Juli 2019 - 13:03

Bupati Alfedri Berharap Kesadaran Berzakat dan Gerakan Subuh Berjamaah Meningkat
Kamis, 18 Juli 2019 - 13:00

Sedih, Ikan Pari Raksasa Ini Hampiri Penyelam dan Minta Pertolongan
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:53

Tolak Program Umrah Digital, ASITA Riau: Ini Ancaman Bagi Pengusaha Travel!
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:49

Menurut FBI, Indonesia Jadi Negara Tujuan Penipuan Bermodus Industri Hiburan
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:45

Pemegang Saham Minta Pemprov Riau Batalkan Pansel Dirut BRK
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:17

Jelang Munas, Golkar Riau Diminta Solid
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:11

1.269 Mahasiswa Lolos Jalur PBUD-PBM di Unri
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:04

Pernak Pernik Perayaan HUT RI Mulai Dijajakan di Pekanbaru
Kamis, 18 Juli 2019 - 12:01

Harga TBS Kelapa Sawit Pekan Ini Turun Rp11,61 Persen
Kamis, 18 Juli 2019 - 11:59

Akhir Juli Ranperda RPJMD Riau 2019-2024 Ketok Palu
Kamis, 18 Juli 2019 - 11:58

Media Diminta Jadi Mitra Pemko Pekanbaru Menuju Kota Layak Anak
Rabu, 17 Juli 2019 - 20:46

Merapat Ke Jokowi, Pemilih Prabowo Akan Tinggalkan Gerindra Pada Pemilu 2024
Rabu, 17 Juli 2019 - 20:39

Selain Kursi Menteri, Pasti Ada Deal Yang Fantastis Antara Prabowo Dan Jokowi
Rabu, 17 Juli 2019 - 20:37

Minyak Serai, Produk Tradisional Khas Pedalaman Riau
Rabu, 17 Juli 2019 - 20:29

Mengeluh Bantuan Gempa, Pengungsi Dituntut Jaksa 8 Bulan Penjara
Rabu, 17 Juli 2019 - 14:12

Dua Unit Rumah Warga di Kota Medan Terbakar
Rabu, 17 Juli 2019 - 14:07

Wagubri Apresiasi Pembangunan Bidang Keagamaan Negeri Istana
Rabu, 17 Juli 2019 - 14:04

Sempena Pembukaan MTQ Kabupaten, Bupati Alfedri Sampaikan Kemajuan Perolehan Zakat
Rabu, 17 Juli 2019 - 14:00

Temui Dirut LPDP, Gubri Harap Beasiswa untuk Masyarakat Riau
Rabu, 17 Juli 2019 - 13:57

Kepala Bappeda Inhu Kumpulkan Lurah se-Inhu di Kelayang, Ada Apa?
Rabu, 17 Juli 2019 - 13:55

Jarak Terlalu Jauh, Dishub akan Tinjau Ulang U-Turn Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:04

Luhut Nilai Abrasi Riau tak Pengaruhi Perbatasan Wilayah Kedaulatan dengan Malaysia
Rabu, 17 Juli 2019 - 08:59

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com