Home
Tagihan Listrik Masyarakat Membengkak, PLN Riau Sebut Tak Ada Kenaikan Tarif | Serikat Guru Tuntut Kemendikbud Perpanjang Belajar Dari Rumah Hingga Desember 2020 | Bupati Alfedri Salurkan 500 Paket Bantuan Pangan Olahan Ikan Dari KKP. | Forum RT-RW se-Kecamatan Pangkalan Kerinci Gelar Pertemuan dengan Dinas Sosial | Kronologi Blokir Internet Papua Berujung Vonis untuk Jokowi | BBKSDA Riau Evakuasi Dua Ekor Beruang Madu dari TWA Dumai
Sabtu, 06 Juni 2020
/ Nasional / 08:19:52 / Para Ibu: Riau Tak Aman Buat Bayi Kami!" /
Para Ibu: Riau Tak Aman Buat Bayi Kami!"
Sabtu, 21 September 2019 - 08:19:52 WIB

PEKANBARU - Warga Provinsi Riau semakin mengkhawatirkan kondisi anak-anak mereka karena kabut asap tak kunjung hilang. Para perantau di Tanah Lancang Kuning pun memilih pulang ke kampung halaman demi mencari tempat berlindung.

Salah satunya adalah Yovan (30 tahun). Yovan sehari-hari berprofesi sebagai pedagang di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Riau. Yovan sudah pindah ke Kandis sejak dua tahun lalu. Sebelumnya, ia bermukim di Kota Pekanbaru.

Karena kabut asap tak kunjung hilang, Yovan memutuskan menutup tokonya. Ia memboyong istri dan anaknya yang baru berusia enam bulan pulang ke kampungnya di Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. "Riau tidak aman buat bayi kami. Sebaiknya pulang kampung dulu," kata Yovan kepada Republika, Jumat (20/9).

Yovan khawatir kabut asap akan menurunkan kesehatan bayinya. Apalagi, pada Rabu (18/9), ada peristiwa bayi berusia tiga hari yang meninggal diduga karena terdampak kabut asap.

Sebenarnya, kata Yovan, kondisi udara di Payakumbuh juga tidak terlalu bersih. Sebab, Sumbar turut terdampak kabut asap. Akan tetapi, Yovan merasa mudik ke Payakumbuh terasa lebih aman karena kota tersebut berada di ketinggian yang memiliki banyak pepohonan rindang. "Lebih aman saja rasanya ke Payakumbuh," ujar Yovan.

Rio (37) juga akan pulang kampung ke Kota Bukittinggi akhir pekan ini. Rio sudah merencanakan memboyong anggota keluarganya keluar dari Kota Pekanbaru sejak pekan lalu.

Namun, pria yang juga berprofesi sebagai pedagang ini sempat ragu karena beredar informasi bahwa aktivitas sekolah akan kembali dimulai pekan ini. Tapi ternyata, sekolah masih diliburkan dan belum ada informasi pasti waktu kegiatan belajar mengajar kembali digelar.

"Akhir pekan ini kami pulang saja ke kampung. Nanti urusan sekolah lihat bagaimana saja informasi pasti. Yang penting anak-anak tidak setiap hari berhadapan dengan kabut asap ini," ucap Rio melalui sambungan telepon. Rio mengungkapkan, ada banyak kenalan dan teman-temannya memilih mengungsi keluar daerah karena tidak tahan lagi dengan kabut asap yang belum mereda.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengaku belum mendapatkan laporan mengenai bayi yang meninggal dunia diduga akibat paparan kabut asap karhutla di Kota Pekanbaru, Riau. "Saya belum dapat laporannya," ujar Nila saat ditemui seusai mengisi Dialog Sosialisasi Kebijakan Kementerian Kesehatan terkait GERMAS dalam rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke-55, di Jakarta, Jumat (20/9).

Oleh karena itu, Nila enggan berkomentar banyak mengenai hal ini, termasuk ihwal diagnosis dokter bahwa kematian bayi malang itu akibat kabut asap. Pihaknya ingin menelusuri terlebih dahulu penyebab meninggalnya bayi tersebut. "Kami lihat dulu," katanya.

Seorang bayi dari pasangan suami istri, Evan Zendrato dan Lasmayani Zega, meninggal dunia pada Rabu (18/9) malam. Lahir dalam keadaan normal dan sehat, bayi berusia tiga hari tersebut meninggal sebelum diberi nama. Evan, bapak kandung bayi, di Pekanbaru, Kamis (20/9), mengatakan, anak pertamanya itu belum sempat diberi nama karena sudah telanjur meninggal. Bayi seberat 2,8 kilogram itu sempat menderita batuk, demam tinggi hingga 41 derajat Celsius, hingga pilek sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

"Dokter bilang anak saya terdampak virus akibat kabut asap," ujar Evan. Bayi itu meninggal saat dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Syafira, Pekanbaru.

Menkes Nila meminta warga yang berada di wilayah terdampak karhutla untuk memasang kain dakron basah dan "exhausted fan" dalam sebuah ruangan. Upaya ini untuk mengurangi dampak pencemaran udara akibat kabut asap karhutla. Nila mengakui, karhutla menimbulkan kabut asap dan mengakibatkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang membahayakan untuk manusia.

"Kalau bisa warga membuat ruangan tanpa asap, yaitu satu ruangan yang ditutup kain dakron basah dan dipasang di jendela-jendelanya supaya partikel polutan itu menempel," ujarnya. Sementara, keberadaan exhausted fan diperlukan untuk mempercepat sirkulasi dan mengeluarkan udara yang sudah terkontaminasi kabut asap.

Nila menegaskan, Kemenkes dan dinas kesehatan daerah sudah mengoperasikan pos kesehatan di Kalsel, Riau, Jambi, Kalteng. Kemenkes juga menyiagakan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) 24 jam untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak. "Kami juga telah mendirikan rumah singgah yang dilengkapi dengan penjernih udara."

RS terdampak

Kabut asap di Riau turut berdampak pada Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Petalama Bumi di Kota Pekanbaru. Asap karhutla terasa sampai ke dalam ruangan RS.

“Bisa dilihat kan agak berkabut di dalam sini (rumah sakit), asap sampai terasa ke dalam. Makanya, kita harus tetap pakai masker di dalam ruangan,” kata Direktur Utama RSUD Petala Bumi Eka Y Ningsih, di Pekanbaru, Kamis.

Berdasarkan pantauan, mayoritas pegawai dan perawat yang bersiaga di lantai satu tempat informasi dan pendaftaran pasien terpaksa mengenakan masker. Pemandangan yang sama terlihat di ruang rawat inap pasien di lantai dua. Manajemen RSUD pun harus menyiagakan ruang evakuasi bagi pegawai di lantai dua.

Eka mengatakan, ruang unit gawat darurat (UGD) rumah sakit milik Pemprov Riau tersebut dijadikan posko kesehatan bagi korban terpapar kabut asap karhutla sejak 14 September lalu. Ratusan warga sudah mendatangi layanan tersebut. Tercatat ada 188 pasien menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 36 pasien asma.

Posko tersebut disiagakan selama 24 jam. Sebagian besar warga yang datang mengalami sesak napas dan harus diobati dengan alat nebulizer. “Kalau saya perhatikan, lebih banyak pasien manula yang datang untuk mendapat perawatan,” kata Eka.

Dari ratusan pasien tersebut, dua di antaranya masih bayi. Salah satunya bernama Darisa Tibyan yang dirujuk dari Puskesmas Rumbai karena diare dan ISPA. Ia mengatakan, banyak warga tidak menyadari betapa bahayanya jerebu karhutla bagi kesehatan. Karena itu, warga banyak jatuh sakit, apalagi asap sudah menyelimuti Pekanbaru selama sebulan terakhir.

“Asap ini partikelnya sangat kecil sehingga bisa langsung masuk ke paru-paru. Daya tahan tubuh jadi menurun, apalagi buat bayi, manula, hamil, sangat rentan. Asap juga memicu penyakit kambuh, seperti asma. Sedangkan untuk jangka panjangnya, paru-paru kita jadi tidak kuat,” ujarnya.

[republika]

   
 
Wajik Alias Kalamai, Kuliner Melayu Khas Lebaran di Pelalawan yang Tak Lekang oleh Waktu
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:02

Dengan Pakai Masker 70 Persen Kemungkinan Terkena covid 19 Berkurang
Jumat, 22 Mei 2020 - 13:55

Rohil dan Kuantan Singingi Daerah Bebas Dari Penularan Positif Covid-19
Jumat, 22 Mei 2020 - 13:51

Sejumlah Jalan Pemprov di Rohul Banyak Rusak, Ini Tanggapan PUPR Riau
Kamis, 21 Mei 2020 - 16:52

Trump Salahkan China atas Pembunuhan Massal Virus Corona
Kamis, 21 Mei 2020 - 16:41

Terima Bantuan dari Pemrov Riau, Pemkab Siak akan Salurkan BLT kepada 16,800 KK
Kamis, 21 Mei 2020 - 16:33

PKS Curiga Motif Pemerintah Bahas RUU Cipta Kerja saat Reses
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:39

Protes Keras, Palestina Batalkan Seluruh Perjanjian dengan AS dan Israel
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:24

Sudah Seminggu, Pekanbaru Nihil Kasus Baru Positif Covid-19
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:19

Kampar Hanya Kebagian Rp6,2 Miliar Atasi COVID-19, DPRD Riau Sebut Pemprov tak Adil
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:01

Enam Daerah PSBB di Riau Dapat Bantuan Logistik Kesehatan Rp20 Miliar, Begini Penjelasannya
Kamis, 21 Mei 2020 - 14:45

3.150 Karyawan di Riau Kena PHK dan Dirumahkan, Dapat Sembako dari Pemda
Kamis, 21 Mei 2020 - 14:39

Pemburu Semakin Leluasa Manfaatkan Wabah COVID-19, Begini Penjelasan Forum HarimauKita
Kamis, 21 Mei 2020 - 14:30

Habieb Bahar Bin Smith Akan Jalani Sisa Hukuman Hingga November 2021
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:59

Telepon Raja Salman, Jokowi Tunggu Nasib Haji Hingga 1 Juni
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:50

Laporkan Stabilitas Harga dan Ketersediaan Bahan Pangan, Penjabat Sekda Vicon dengan Gubri
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:37

PKS Sebut New Normal Cermin Ketidakjelasan Tangani Corona
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:29

AS Pilih Ilmuwan Muslim Untuk Pimpin Program Penemuan Vaksin Covid-19
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:18

Diskon Tagihan Listrik Diperpanjang Jadi 6 Bulan
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:11

Kenapa Mal Boleh Buka Sementara Warga Diminta Salat di Rumah? Ini Penjelasan Pemko Pekanbaru
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:07

Tiga Bus Mengangkut Pemudik dari Pekanbaru ke Lampung "Terjaring" Petugas Pos PSBB Pelalawan
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:01

H-5 Idul Fitri, Jalan di Kota Pekanbaru Mulai Padat Lagi
Selasa, 19 Mei 2020 - 13:57

Sejumlah Kegiatan Dilelang, Tak Semua APBD Riau Dialihkan untuk Penanganan Covid-19
Selasa, 19 Mei 2020 - 13:53

110 Penulis Satupena Ikut Menulis Buku "Kemanusiaan pada Masa Corona"
Senin, 18 Mei 2020 - 17:27

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com