Home
Taliban Tawarkan AS Gencatan Senjata 10 Hari | Saleh Daulay: Kenaikan Elpiji 3 Kg Menambah Beban Rakyat | 30 Ribu e-KTP Belum Dicetak, Pekanbaru Hanya Dapat Jatah 10 Ribu Keping Blangko | Nadiem: Sinetron Indonesia Jangan Hanya Pikirkan Rating Dan Di Zona Itu-itu Saja | Ditangkap Polisi karena Bakar Lahan, Pelaku Berdalih untuk Usir Monyet | Waduh, 10 Hektare Hutan di SM Giam Siak Kecil Riau Terbakar
Sabtu, 18 Januari 2020
/ Mozaik / 10:39:44 / Pelarang Jibab 1980-an: Dikeluakan Sekolah, Jilbab Beracun /
Pelarang Jibab 1980-an: Dikeluakan Sekolah, Jilbab Beracun
Sabtu, 02 November 2019 - 10:39:44 WIB

Oleh: Setiardi, Jurnalis Senior

Inilah kisah soal liku-liku pelarangan jilbab di tahun 1982. Cerita ini kisahkan Majalah Panji Masyarakat yang dahulu didirikan oleh Buya Hamka. Kisahnya begini, empat siswi SMA Negeri 68 Jakarta dikeluarkan dari sekolah. Mereka dianggap melanggar aturan tentang seragam sekolah. Keempat siswi itu rupanya ngotot mengenakan jilbab, seperti keyakinan mereka atas ajaran agama Islam.

Dan kita tahu, saat itu rezim Orde Baru (Orba) alergi dengan simbol-simbol Islam. Pemecatan terjadi di banyak tempat. Bahkan ada yang diinterogasi di markas tentara karena memakai jilbab.

Seperti tak ingin lengah, Pemerintah Orba makin menegaskan larangan penggunaan jilbab di sekolah negeri. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah. Intinya: tak ada ruang bagi pengguna jilbab di sekolah negeri. Yang bersikukuh menerapkan keyakinannya itu akan dikeluarkan dari sekolah.

Cerita selanjutnya makin seru. Bahkan kemudian muncul rumor soal 'jilbab beracun', yakni perempuan berjilbab yang menebar racun di pasar-pasar. Awal kisah ini di Pasar Rawu, Banten. Seorang perempuan dihajar massa dengan tuduhan menyebar racun di bahan makanan. Tudingan yang absurd. Saya duga itu untuk stigma negatif. [Apakah soal crossgender bercadar saat ini juga untuk stigma negatif? Entahlah].

Tapi rakyat bergerak. Demonstrasi menentang larangan jilbab merebak. Rejim tak mungkin melawan gelombang massa yang menguat. Terlebih, dinamika politik bergerak. Pendulum menuju ke kanan, mencari keseimbangan baru. Presiden Soeharto kemudian makin 'akrab' dengan kalangan Islam. ABRI, kekuatan utama Soeharto, makin didominasi tentara 'hijau'.

Akhirnya pada 1991 Pemerintah secara resmi menguarkan SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah soal seragam sekolah yang baru. Siswi diperbolehkan memakai jilbab.

Nah. kini muncul lautan jilbab. 9 dari 10 eks teman sekolah perempuan kini berjilbab. Terlihat saat acara reuni atau arisan. Tak cuma itu, saat ini saya punya teman karib di TNI, seorang perwira menengah berpangkat Letkol, teman Facebook juga, yang mengenakan jilbab. Semua baik-baik saja. Dunia tak menjadi kiamat. Padahal dulu membayangkannya pun rasanya muskil.

Lalu apa moral cerita di atas? Tak ada yang abadi. Jika kini ramai soal larangan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah [atas nama aturan seragam resmi], bisa saja suatu saat akan berubah. Dan bukan mustahil, anak-cucu para pejabat yang kini melarang cadar dan celana cingkrang itu justru memakainya. Tak ada yang bisa menebak masa depan!...]Republika]

   
 
Jajaran Polda Riau Komit Cegah dan Tangani Karhutla 2020
Jumat, 17 Januari 2020 - 13:46

India Tertarik Bangun Pabrik CPO di Riau
Jumat, 17 Januari 2020 - 13:42

Pilkada Bengkalis 2020, ASN Dituntut Netral
Jumat, 17 Januari 2020 - 13:38

Kampar Dapat 283 RLH di APBD Riau 2020
Jumat, 17 Januari 2020 - 13:34

16 Titik Panas Terdeteksi di Bengkalis
Jumat, 17 Januari 2020 - 13:32

Fitra Riau Sorot Pembangunan Perkantoran Pemko Pekanbaru di Tenayan Raya
Kamis, 16 Januari 2020 - 19:40

Gudang Farmasi RSUD Arifin Achmad Terbakar
Kamis, 16 Januari 2020 - 19:37

Masuk Nominasi Adipura Kencana 2019, Alfedri Exspos di Depan Dewan Pertimbangan Adipura
Kamis, 16 Januari 2020 - 19:34

Disprindag Dan Dinas Pasar Permudah Masyarakat Pantau Harga Sembako Melalui Website Sikompang
Kamis, 16 Januari 2020 - 19:29

Suap Revisi Alih Fungsi Lahan Riau Bikin Zulhas Dipanggil KPK
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:35

Online Learning Makin Marak, Perguruan Tinggi Diminta Lebih Adaptif
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:29

Harga TBS Kelapa Sawit di Riau Naik Jadi Rp2.229,41/Kg
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:19

Seleksi Komisaris Utama BRK Tuntas, Besok Akan Dilaksanakan RUPS
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:16

Dukung Siak Hijau, Pemkab Gelar Rapat Formulasi Tim dan Kerangka Daya Saing Daerah
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:13

Hujan Berpotensi Guyur Riau Hari Ini, 7 Hotspot Masih Terpantau
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:08

Karhutla Riau Jerat Sembilan Tersangka
Kamis, 16 Januari 2020 - 13:57

Tahun Ini USBN Ditiadakan, Penilaian Siswa Masing-masing Sekolah
Kamis, 16 Januari 2020 - 13:54

1 Februari, Bayar Parkir Bandara Wajib Nontunai
Kamis, 16 Januari 2020 - 13:49

Jokowi Sebut Sandiaga Presiden 2024, Pengamat: Kalau Pidato Di Tempat Lain Kan Beda Lagi
Kamis, 16 Januari 2020 - 09:00

Warga Gempar, Kerangka Misterius Ditemukan di Rumah Kosong dengan Posisi Duduk
Kamis, 16 Januari 2020 - 08:32

18 Prodi UIR Raih Premier Akreditasi International ASIC
Kamis, 16 Januari 2020 - 08:17

Duh! Harga Elpiji 3 Kg Bakal Naik Jadi Rp 35.000 per Tabung
Kamis, 16 Januari 2020 - 08:01

Polisi Selidiki Proyek Pengadaan Pompa Air di Bengkalis
Kamis, 16 Januari 2020 - 07:59

Habiskan Rp 12 Miliar dalam 3 Bulan, Model Seksi Ceraikan Suami Bangkrut
Kamis, 16 Januari 2020 - 07:52

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com