Home
Al Huda Syiar Islam dari Tanah Rencong | Polsek Lirik Tangkap Pengedar Sabu | Pakar Ungkap Jenis Olahraga yang Tepat di Usia 40 Tahun | Cari Korban Kapal Tenggelam di Perairan Rupat, KN RB 218 Basarnas Pekanbaru Diterjunkan | Teguran Nabi Muhammad pada Orang yang Menghina Orang Tua | Imigrasi Akhirnya Akui Harun Masiku di Tanah Air
Kamis, 23 Januari 2020
/ Politik / 08:20:59 / Rocky Gerung Juga Tak Paham Pancasila /
Rocky Gerung Juga Tak Paham Pancasila
Minggu, 08 Desember 2019 - 08:20:59 WIB

KEPADA berbagai pandangan kritis Rocky Gerung terhadap rezim Jokowi, saya sepakat. Kritik-kritik RG memang didasarkan kepada argumen filosofis yang kuat, sehingga kritiknya sangat telak dan banyak lawan debatnya tidak berkutik.

Ibarat bermain catur, mereka kena skak mat. Juga kritiknya yang sampai menyebut bahwa Jokowi tidak paham Pancasila.

Namun, dalam hal pemahaman hubungan antara pasal pertama dengan pasal kedua, kali ini saya tidak sependapat dengan Rocky Gerung. Menurut saya, kali ini, RG mengalami gagal paham yang cukup fatal karena menganggap bahwa antara sila ke-1 dengan sika ke-2 bertentangan.

RG berpandangan bahwa kemanusiaan dalam sila ke-2 adalah humanisme. Dan humanisme merupakan antitesa dari paham ketuhanan.

Pandangan Rocky Gerung tersebut karena perspektif dengan rujukan sejarah yang murni Barat, Eropa. Sebagaimana dikutip oleh Tempo, RG mengatakan: “Humanisme itu adalah kritik terhadap teokrasi. Sila pertama sebenarnya teokrasi. Di Eropa, abad ke-15 pendapat publik dikuasai oleh gereja. Maka, berlaku prinsip kalau Anda tidak direstui langit, Anda berdosa. Humanisme enggak harus begitu. Saya berbuat baik, enggak perlu cari pahala ke surga. Jadi sila kedua sebetulnya adalah kritik terhadap sila pertama.”

Pancasila sesungguhnya lebih merupakan saripati ajaran-ajaran Islam. Jika ada yang agak dipaksakan dengan nilai, itu mungkin hanya sila ke-3, Persatuan Indonesia. Ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, dan keadilan sosial, semuanya merupakan ajaran yang sangat jelas, yang bisa ditemukan di dalam sumber utama ajaran Islam; al-Quran dan/atau hadits. Namun, persatuan sesungguhnya juga semangat Islam.

Hanya saja, semangat itu tidak dibatasi oleh kebangsaan, melainkan persatuan ummat secara keseluruhan. Namun, dalam konteks tertentu, dalam sejarah awal Islam, juga bisa ditemukan semacam nasionalisme yang dibangun oleh Nabi di Madinah bersama dengan entitas politik non-umat Islam yang berjumlah jamak, untuk menghadapi musuh-musuh Madinah. Hanya saja, ternyata terdapat kalangan dalam, terutama Yahudi yang kemudian justru berkomplot dengan musuh.

Dalam konteks nasionalisme, Indonesia juga membangun konsepsi sendiri yang karakternya tidak sekuler. Nasionalisme Barat, dikonstruksi sebagai antitesis atas teokrasi, dalam konteks saat itu adalah religio integralisme Catholic. Karena penyatuan antara gereja dan negara dianggap telah menyebabkan penyelewengan kekuasaan, maka muncul tuntutan, agar negara tidak didasarkan atas agama. Negara harus dipisahkan dengan gereja (baca: agama) dan ia kemudian didasarkan kepada kebangsaan. Dari sinilah muncul konsepsi nasionalisme dengan karakter sekuler, karena ia berjalan dengan sekularisme.

Namun, Indonesia didesain dengan perspektif bahwa sekularisme bukanlah jiwa bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia adalah rakyat yang membutuhkan agama dalam seluruh aspek kehidupannya. Karena itulah, konsepsi nasionalisme Indonesia disesain dengan basis ketuhanan, dengan dasar Pancasila yang sila pertamanya adalah ketuhanan yang maha esa itu. Saya menyebut nasionalisme dengan dasar Pancasila ini sebagai nasionalisme religius.

Lebih lanjut, pengaruh perspektif Islam dalam sila-sila Pancasila sangat kentara, karena awalnya bahkan menyebut kata Islam, dalam sila ke-1 sebelum diubah, yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya”.

Namun, karena ada klaim keberatan dari golongan tertentu, maka kemudian diubah menjadi sebagaimana sekarang, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Namun, ini pun sesungguhnya merupakan konsepsi teologis yang harus diakui lebih khas dengan Islam, karena tidak mengalami masalah sama sekali dengan doktrin bahwa Allah adalah esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan juga tidak ada yang menyamaiNya sebagaimana lengkap dan sekaligus ringkas konsepsinya dalam QS. al-Ikhlash.

Dalam doktrin Islam, ketuhanan sama sekali tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Apalagi di dalam sila ke-2 ditegaskan tentang kemanusiaan yang dimaksudkan, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Justru yang ada pada sila ke-2 itu merupakan kedalaman konsepsi Islam.

Adil yang ada di dalam sila ke-2 bahkan bisa diinterpretasikan juga dalam konteks menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan perspektif yang digariskan oleh kitab suci yang benar. Karena kemanusiaan yang dimaksud adalah kemanusiaan yang justru harus didasarkan kepada ketuhanan.

Di dalam Islam, segala macam kebaikan, termasuk terutama kebaikan kepada manusia lain, harus tetap diorientasikan atau diniatkan karena Allah. Karena itulah Islam menekankan hubungan yang baik dengan Allah dan sekaligus juga kepada sesama manusia. Kedua hubungan yang baik itu dipandang akan menghindarkan manusia dari kehinaan.

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. … (Ali Imran: 112).

Perbedaan mencolok antara Islam dan humanisme di sini adalah: yang pertama mengharuskan kebaikan itu didasarkan niat karena Allah; sedangkan yang kedua tidak memedulikan kepada dimensi niat sama sekali. Jika Islam melarang perbuatan baik yang diorientasikan untuk riya, sumah, dan lainnya yang bervisi duniawi, humanisme sama sekali tidak memiliki padangan itu.

Tentang pentingnya niat ini, ada sebuah hadits yang sangat terkenal, yang menggambarkan tentang perbuatan yang sama, tetapi nilainya berbeda. Nabi Muhammad bersabda: “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari Muslim)

Dengan memahami perspektif tersebut secara utuh, maka antara ketuhanan dalam sila ke-1 dan kemanusiaan dengan adjektif adil dan beradab dalam sila ke-2, sama sekali tidak bertentangan. Bahkan keduanya bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang yang jika salah satunya tidak ada, maka sama dengan ketiadaan keduanya. Dan tidak sedikit pemikir Islam yang bersepakat bahwa tanpa sila ke-1, sila-sila yang lain dalam Pancasila bernilai 0. Wallahu alam bi al-shawab.

Dr. Mohammad Nasih
 Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, pengasuh Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang.

   
 
Bocoran Spesifikasi, Fitur dan Harga Suzuki XL7 di Indonesia
Rabu, 22 Januari 2020 - 15:04

Microsoft Sudahi Windows 7, Pengguna Move-on Dong!
Rabu, 22 Januari 2020 - 14:57

Tak Kunjung Selesai Dibangun, Jalan Lintas Kubu Rohil hanya Jadi Pemanis Janji Politik
Rabu, 22 Januari 2020 - 14:44

Sudah Dirobohkan Satpol PP Pekanbaru, Warung Diduga Tempat Mesum Kembali Beraktivitas
Rabu, 22 Januari 2020 - 14:37

Investor Bakal Kelola Stadion Utama Riau, DPRD: Kita Dukung Langkah Pemprov
Rabu, 22 Januari 2020 - 14:31

Jadwal Pemadaman Listrik di Riau Tanggal 22 Januari 2020
Rabu, 22 Januari 2020 - 14:28

Sekjen MUI: RUU Omnibus Law Jangan Melanggar Ajaran Agama
Rabu, 22 Januari 2020 - 11:19

Diskes Imbau Warga Riau Pahami Gejala Virus Korona yang Wabahi China
Rabu, 22 Januari 2020 - 10:56

Akui Ada Laporan Masyarakat, Bupati Kampar Sidak Kantor Diskdukcapil
Rabu, 22 Januari 2020 - 10:03

Jalan Putus, Kades Datangkan Excavator Buat Jembatan
Rabu, 22 Januari 2020 - 09:41

BOS Afirmasi Untuk Digitalisasi Sekolah?
Oknum Guru SDN di Kelayang Bebas Miliki Barang Bantuan BOS Afirmasi Berupa Ipad
Rabu, 22 Januari 2020 - 09:35

Melalui Pramuka, Babinsa Koramil 14/Kepenuhan Kodim 0313/Kpr Bina Generasi Muda
Rabu, 22 Januari 2020 - 09:30

Islami Center Rohul Tetap Terkelola Baik, Pengurus Terima Stuban dari Pemkab Anambas
Rabu, 22 Januari 2020 - 09:24

Bupati Sukiman Ajukan Tiga Ranperda Sekaligus ke DPRD Rohul
Rabu, 22 Januari 2020 - 09:11

Riau Diprediksi Kemarau 7 Bulan, DPRD Pekanbaru Ingatkan BPBD Siaga Sejak Awal
Rabu, 22 Januari 2020 - 08:48

Hujan Tak Bantu Padamkan Api Karhutla Australia
Rabu, 22 Januari 2020 - 08:40

Berang BPJS Kesehatan Tetap Naik, DPR: Kami Tidak Mau Lagi Dibohongi!
Rabu, 22 Januari 2020 - 08:28

Tol Bangkinang-Pekanbaru Sepanjang 38 Km Segera Dibangun
Rabu, 22 Januari 2020 - 08:26

Pengamat: Deklarasi Asman Abnur Bisa Jadi Untuk Menggoyang Loyalis Zulhas
Rabu, 22 Januari 2020 - 08:19

PKS: Sungguh Kemunduran Jika Sertifikasi Halal Dihapus Dalam UU Omnibus Law
Rabu, 22 Januari 2020 - 08:13

Harga Ayam Potong Murah Jelang Imlek Rp20.000 Per kg di Pekanbaru
Selasa, 21 Januari 2020 - 15:36

Pembangunan Tol Pekanbaru-Dumai Capai 90 Persen, Begini Target Selesainya
Selasa, 21 Januari 2020 - 15:29

Janda Lima Anak Tinggal di Kandang Sapi, Bupati Rohil Akan Bangun RLH
Selasa, 21 Januari 2020 - 15:03

SKANDAL JIWASRAYA
Andi Arief: Pak Prabowo, Jangan Dengar Anggota DPR Yang Pasang Badan Pada Lembaga Sekuritas
Selasa, 21 Januari 2020 - 14:43

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com