Home
Gubri: Semoga Sebelum Lebaran Virus Corona Berakhir | Total PDP Covid-19 di Riau 97 Orang | Ahli Virologi Ungkap Tips Mudah Bunuh Virus Corona | Ketua DPRD Inhil Terjun Langsung Lakukan Penyemprotan Disinvektan Dari Desa ke Desa | Hand Sanitizer Beralkohol, Sucikah Dipakai Salat? | Berjibaku, Begini Dinsos Bengkalis Siapkan Kebutuhan Warga Karantina
Senin, 30 Maret 2020
/ Ekbis / 15:22:57 / Maksud Terselubung AS Memasukkan RI sebagai Negara Maju /
Maksud Terselubung AS Memasukkan RI sebagai Negara Maju
Sabtu, 22 Februari 2020 - 15:22:57 WIB

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau Office of the US Trade Representative (USTR) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengeluarkan Indonesia dari daftar negara- negara berkembang lalu memasukkannya sebagai negara maju.

Seperti dilansir dari Business Insider, Sabtu (22/2/2020), kebijakan itu dilakukan pemerintah Donald Trump untuk mengurangi jumlah negara-negara yang selama ini dianggap mendapatkan perlakuan istimewa.

Menyandang status sebagai negara berkembang memang menguntungkan dari sisi perdagangan. Ini karena barang impor dari negara berkembang yang masuk ke AS mendapatkan bea masuk yang lebih rendah ketimbang komoditas negara maju.

Aturan memberikan perlakukan istimewa dalam perdagangan bagi negara-negara berkembang ditujukan untuk membantu negara-negara tersebut keluar dari kemiskinan.

Indonesia tak sendiri. Negeri Paman Sam itu juga mengeluarkan negara-negara lain dari daftar negara berkembang.

Beberapa di antaranya adalah negara anggota G20, seperti Argentina, Brazil, India, dan Afrika Selatan.

Sebagai contoh Afrika Selatan. AS mengeluarkan negara itu karena dianggap sebagai anggota G20 yang kekuatan ekonominya cukup diperhitungkan. Namun, jika diukur dari pendapatan nasional bruto per kapita, Afrika Selatan sebenarnya masih tergolong sebagai negara berkembang.

"G20 merupakan forum dominan dalam kerja sama ekonomi internasional yang menyatukan negara-negara ekonomi besar dan perwakilan dari lembaga internasional besar seperti Bank Dunia dan IMF," tulis USTR dalam pernyataannya.

"Mengingat betapa signifikannya G20 dalam ekonomi global, dan besarnya ekonomi dari negara-negara anggotanya yang menyumbang sebagian besar dari output ekonomi global, keanggotaan G20 menunjukkan bahwa suatu negara tengah dikembangkan (jadi negara maju)," kata USTR.

Dalam pertimbangan yang digunakannya, USTR mengabaikan indikator negara berkembang lainnya, seperti angka kematian bayi, angka buta huruf orang dewasa, dan harapan hidup saat lahir.

Alasan inilah yang membuat Indonesia dan negara-negara berkembang di G20 lainnya dianggap AS tak lagi memenuhi syarat mendapatkan perlakuan istimewa sebagai negara berkembang.

Sebelumnya, dikutip dari Kontan, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, kebijakan AS ini akan berdampak terhadap fasilitas-fasilitas perdagangan negara berkembang.

“Dampaknya tentu fasilitas, Indonesia yang sebelumnya menjadi negara berkembang akan dikurangi, ya kita tidak khawatir itu,” kata Airlangga di kantornya, Jumat (21/2/2020).

Setali tiga uang, ekspor barang-barang Indonesia bakal kena tarif tinggi daripada negara berkembang lainnya.

Sebagai contoh, pajak-pajak impor yang diatur AS atas barang Indonesia bakal lebih tinggi, termasuk bea masuk. “Tapi belum tentu, kami tidak khawatir,” ujar Airlangga.

Dalam kebijakan baru AS yang telah berlaku sejak 10 Februari 2020 tersebut, Indonesia dikeluarkan dari daftar Developing and Least-Developed Countries sehingga Special Differential Treatment (SDT) yang tersedia dalam WTO Agreement on Subsidies and Countervailing Measures tidak lagi berlaku bagi Indonesia.

Sebagai akibatnya, de minimis thresholds untuk marjin subsidi agar suatu penyelidikan anti-subsidi dapat dihentikan berkurang menjadi kurang dari 1 persen dan bukan kurang dari 2 persen.

Selain itu, kriteria negligible import volumes yang tersedia bagi negara berkembang tidak lagi berlaku bagi Indonesia.

Dampaknya, memang kebijakan ini cenderung buat perdagangan Indonesia buntung. Padahal, selama ini Indonesia surplus dari AS.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) surplus perdagangan Indonesia dengan AS pada Januari 2020 sebesar 1,01 miliar dollar AS, angka ini tumbuh bila dibanding surplus periode sama tahun lalu, yakni 804 juta dollar AS.

Data tersebut juga menyebutkan, AS menjadi negara terbesar kedua pangsa ekspor non-migas Indonesia sebesar 1,62 miliar dollar AS pada Januari 2020.

[kompas.com]

   
 
Cegah COVID-19, KSKP Tembilahan Siapkan Bilik Sterilisasi untuk Masyarakat
Sabtu, 28 Maret 2020 - 06:50

Tidak Hanya Menghapus UN, UKK bagi Siswa SMK juga Ditiadakan
Sabtu, 28 Maret 2020 - 06:40

Jadwal UTBK 2020 Ditunda
Sabtu, 28 Maret 2020 - 06:38

Gelar OP Setelah Kondisi Aman Dari Covid-19
Sabtu, 28 Maret 2020 - 06:35

Update PDP Covid-19 di Riau, 22 Orang Telah Dinyatakan Negatif
Sabtu, 28 Maret 2020 - 06:24

Pemprov Riau Perpanjang Libur Sekolah SMA/SMK Sederajat
Sabtu, 28 Maret 2020 - 06:22

ODP Covid-19 Di Kampar Meningkat Capai 978 Orang, 2 Orang PDP
Jumat, 27 Maret 2020 - 07:39

Tangani Corona, Israel Buka Bunker Perang
Jumat, 27 Maret 2020 - 07:36

AS Bantah Tuduhan Iran Soal Pembuat Virus Corona
Jumat, 27 Maret 2020 - 07:32

Bahaya Corona, Pemkab Kampar Sosialisasi Dihadapan 5 Camat
Jumat, 27 Maret 2020 - 07:26

Update Covid-19, 12 ODP di Inhil Telah Selesai Masa Pemantauan dan Dinyatakan Aman
Jumat, 27 Maret 2020 - 07:19

Antisipasi Penyebaran Virus Corona di Kota Tembilahan, Wabup SU Lakukan Penyemprotan
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:42

Dinas Koperasi UMKM Inhil Keluhkan Minimnya Anggaran Monitoring
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:38

Kadiskes Riau Sebut Pusat Tak Rincikan Kasus Positif Corona di Riau
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:33

Gubri: Persiapan Menyambut TKI Cukup Gunakan Masker
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:28

Anggaran DPRD Riau Rp 28M Siap Dialihkan Penanganan Corona
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:22

DPKP Semprot Disinfektan di Pasar Tradisional di Pekanbaru
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:19

Dampak Covid-19, Bapenda Riau Bebaskan Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:15

Chevron Bantu APD ke Pemprov Riau
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:12

LAMR Imbau Perusahaan Besar di Riau Peduli Pandemi Corona
Jumat, 27 Maret 2020 - 06:09

ADVERTORIAL PEMKAB BENGKALIS
Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Bengkalis dan Posko Covid Center
Kamis, 26 Maret 2020 - 12:36

Catat, Ini Tandanya Virus Corona Mulai Pengaruhi Kesehatan Jiwa
Rabu, 25 Maret 2020 - 08:50

Mau Pesta Nikah di Inhil? Siap-siap Dibatalkan
Rabu, 25 Maret 2020 - 08:48

Terkait Proyek RoRo Kementrian PUPR 2019, Pembanguan RKB SD di Rohul Masih Terbengkalai
Rabu, 25 Maret 2020 - 08:42

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com