Home
Kata UAS Soal Hukum Salat Jamaah Berjarak di Tengah Wabah COVID-19 | Wow, Ternyata Minum Kopi Ampuh Cegah Stroke pada Perempuan | AS Gugat Perusahaan China yang Menjual Masker N95 Palsu | Tingkat Kesembuhan Riau, Nomor Dua di Indonesia | Otak-otak Ikan Patin Oleh-oleh dari Pekanbaru yang Menggoda Selera | Keberangkatan 858 CJH Pekanbaru Ditunda, Wawako Ayat: Jangan Bersedih
Minggu, 07 Juni 2020
/ Peristiwa / 14:57:40 / Kenali Ciri-ciri Teori Konspirasi Virus Corona COVID-19 /
Kenali Ciri-ciri Teori Konspirasi Virus Corona COVID-19
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:57:40 WIB

Isu teori konspirasi mengenai Virus Corona COVID-19 bak angin kencang. Bersama berita palsu atau hoax, keduanya berupaya memperdaya pikiran manusia.

Warga dunia kini sedang berada di tengah pusaran krisis dampak pandemi COVID-19. Bukan hanya masalah kesehatan dan ekonomi tapi juga krisis psikologis.

Konsekuensi pandemi punya impak berbeda-beda bagi tiap individu. Tapi ada satu dampak yang sama bagi semua: ketidakpastian.

Dan, orang tidak suka ketidakpastian. Mereka ingin tahu, apa yang akan terjadi kemudian dan bagaimana? Serta apakah semua hal harus dilakukan secara berbeda dari saat sebelum pandemi?

Kondisi seperti inilah yang menghidupkan teori konspirasi di saat terjadi krisis. Sebab, teori konspirasi dan hoax selalu menawarkan penjelasan yang gampang dicerna terkait kekacauan dan ketidakpastian yang seolah tanpa akhir.

Di saat normalitas yang dikenal banyak orang serasa makin menjauh dari keseharian, biasanya orang-orang cenderung mengikuti narasi yang mengklaim tahu apa atau siapa penyebab krisis.

Kapan teori bisa digolongkan konspirasi?

Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan simpel ini. “Pasalnya hingga kini tidak ada konsensus ilmiah untuk mendefinisikan apa teori konspirasi itu“, ujar Roland Imhoff, ahli psikologi dari Universitas Johannes Gutenberg di Mainz, Jerman.

Imhoff mengatakan dalam wawancara dengan DW, bagi dia teori konspirasi itu adalah; “Asumsi bahwa sebuah peristiwa yang memiliki cakupan besar, yang dipicu rencana beberapa gelintir orang yang ingin mengeruk keuntungan dan memperkaya diri dengan mengorbankan masyarakat“

Kadang teori konspirasi punya penjelasan yang masuk akal terkait proses sebuah peristiwa. Salah satunya yang dicatat sejarah adalah fabrikasi tentang "Protocols of the Elders of Zion,"yang diduga dibuat oleh dinas rahasia Tasar di jaman kekaisaran Rusia. Teori konspirasianti Semit ini kemudian dijadikan pembenaran oleh Adolf Hitler untuk membasmi kaum Yahudi lewat Holocaust.

Cek fakta!

Untuk mengenali teori konspirasi, gunakan standar ilmiah. “Dalam sains sangat jarang ada kebenaran absolut. Yang ada penjelasan masuk akal dan konfirmasi empiriknya dalam derajat yang berbeda-beda“, papar Imhoff kepada DW. Sebagian besar teori konspirasi biasanya sangat tidak masuk akal.

Poin pertama konfirmasi, cek sumbernya. Siapa yang mengatakannya, kapan dan di mana? Apakah CNN, The Guardian atau Deutsche Welle? Atau via media sosial, YouTube, grup WhatsApp, Twitter, grup Facebook dan sejenisnya? Bahkan ada yang bergelar Doktor, tapi tanpa menyebut publikasi ilmiah sumbernya.

Tidak ada faktor kebetulan

Dalam naratif teori konspirasi tidak pernah ada pesitiwa yang terjadi secara “kebetulan“. Pasalnya mayoritas orang tidak suka pada faktor kebetulan. Karena hal itu tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dikendalikan.


Penyerahan bantuan Covid-19 oleh Bank bjb yang diberikan oleh Pimpinan bank bjb Kantor Cabang (KC) Tegal M. Fajar Firdaus kepada Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono di Rumah Dinas Pringgitan Wali Kota Tegal, Rabu (20/05/2020).

Romi Mulyadi, Marketing Manager Living World Alam Sutera saat menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang tinggal di Kampung Marga Jaya, Serpong Utara, Tangerang Selatan.

“Karena itu para pencetus teori konspirasi sering mengkait-kaitan sesuatu yang tidak ada hubungannya dan berbelit-belit, agar terdengar masuk akal dan bukan faktor kebetulan“, ujar ahli psikologi Imhoff.

Misalnya di Jerman kini muncul teori konspirasi, bahwa Menteri Kesehatan Jens Spahn dulu ikut Leadership Program yang dibayai sebuah bank, dimana salah seorang kerabat jauh dari salah seorang pamannya bekerja pada seorang perempuan yang dulu pernah bekerja untuk Bill Gates.

Tidak perlu logika

Para pencetus berita palsu, hoaks atau teori konspirasi juga tidak perlu narasi logis. “Pasalnya, para pengikut mereka juga tidak perlu logika atau bahkan tidak peduli logika yang bertabrakan,'' ujar Imhoff menyitir salah satu riset yang ia kerjakan.

Misalnya dalam kasus kecelakaan Putri Diana dari Inggris. “Orang-orang yang meyakini Lady Di dibunuh oleh dinas rahasia, juga mereka yang meyakini Lady Di kini masih hidup disebuah pulau terpencil agar tidak direcoki“, ujar ahli psikologi Jerman itu.

Bagi pengikut hoaks atau teori konspirasi, apa yang terjadi pada subyek bahasan tidak lagi penting. Bagi mereka target politisnya adalah : “pokoknya“ penguasa melakukan pembohongan pada rakyat. Titik.

Siapa yang mengeruk untung?

Selain bertujuan politik, tujuan lain dari teori konspirasi dan hoaks adalah meraup untung sebesar-besarnya. Misalnya saja Alex Jones, penyiar acara radio dan penyebar teori konspirasi asal AS, melontarkan hoaks tentang kiamat akibat Covid-19 lewat perusahaan miliknya Infowars.

Dalam waktu bersamaan, lewat toko-toko yang berafiliasi ke Infowars, Jones menjual makanan suplemen, alat teknik keamanan dan peralatan survival. “Dengan menyebarkan hoaks dan teori konspirasi kiamat dunia, Jones meraup untuk dari bisnis yang marak.''

Siapa yang gampang percaya teori konspirasi?

Menyebarkan dan mempercayai teori konspirasi, hoaks atau berita palsu memberikan perasaan percaya diri semu kepada para penganutnya. “Perasaan bahwa mereka memiliki informasi eksklusif, yang tidak dimiliki orang awam yang mereka nilai naif, menjadi alasan berikutnya bagi populernya teori konspirasi“, papar Imhoff lebih lanjut.

Riset menunjukkan, orang punya tendensi untuk mengembangkan hoaks atau teori konspirasi jika mereka merasa kehilangan kontrol pada kehidupannya. Dalam dunia modern dan global yang sangat kompleks saat ini, perasaan tersebut bukan hanya menyergap kaum marjinal, tapi juga menyerang kelompok yang berpendidikan dan golongan berpunya. Keinginan untuk punya kepastian mempersatukan mereka.

Bagaimana kita harus bersikap?

Seringkali tema-tema yang diangkat pendukung terori konspirasi atau media-media tukang plintir dan tipu-tipu, tidak lagi hanya mendarat di linimasa media sosial tapi jadi tema diskusi nyata sehari-hari. Dialog model apa yang bisa terjalin, jika logika tidak lagi dipedulikan, kausalitas tidak dibedakan dari korelasi dan media, tetap menuturkan kebohongan?

Roland Imhoff kembali menegaskan, fungsi dari teori konspirasi adalah untuk memuaskan kebutuhan mengontrol kehidupan sendiri, untuk keamanan dan memprediksi apa yang terjadi. Jadi saat berdiskusi dengan teman atau keluarga, perlu menanggapi serius kebutuhan ini, tanpa mempedulikan narasi teori konspirasinya.

Ahli psikologi itu mengingatkan, keamanan dan kontrol absolut hanya bisa ditemukan dalam mimpi tentang dunia ilusi berbunga-bunga dan penuh bintang. Juga teori konspirasi dan hoax paling hebat sekali pun, tidak akan dapat mengubah hal tersebut. (VIVA)

   
 
Donald Trump Akhiri Hubungan AS dengan WHO
Sabtu, 30 Mei 2020 - 06:53

Uni Eropa Desak Israel Hentikan Penghancuran Rumah Palestina
Sabtu, 30 Mei 2020 - 06:51

Valentino Rossi Akui Berat Ucapkan Salam Perpisahan kepada MotoGP
Sabtu, 30 Mei 2020 - 06:45

Penumpang Lewat Bandara SSK II Wajib Kantongi Surat Keterangan Negatif Covid-19
Sabtu, 30 Mei 2020 - 06:35

Hingga Kini, Laboratorium Biomolekuler Sudah Periksa 3.400 Sampel
Sabtu, 30 Mei 2020 - 06:30

Walhi Riau dan Jikalahari Desak Gubernur Riau Tolak Mamud Murod Sebagai Kadis LHK Riau
Jumat, 29 Mei 2020 - 13:42

Kenali Ciri-ciri Teori Konspirasi Virus Corona COVID-19
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:57

PKS: Bawa Bahar Smith ke Nusakambangan Arogansi Kekuasaan
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:35

Arab Saudi Kecam Israel akan Caplok Bagian Negara Palestina
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:12

Bangun Kilang Dumai, Pertamina Gandeng Perusahaan Korea
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:08

Wajik Alias Kalamai, Kuliner Melayu Khas Lebaran di Pelalawan yang Tak Lekang oleh Waktu
Jumat, 22 Mei 2020 - 14:02

Dengan Pakai Masker 70 Persen Kemungkinan Terkena covid 19 Berkurang
Jumat, 22 Mei 2020 - 13:55

Rohil dan Kuantan Singingi Daerah Bebas Dari Penularan Positif Covid-19
Jumat, 22 Mei 2020 - 13:51

Sejumlah Jalan Pemprov di Rohul Banyak Rusak, Ini Tanggapan PUPR Riau
Kamis, 21 Mei 2020 - 16:52

Trump Salahkan China atas Pembunuhan Massal Virus Corona
Kamis, 21 Mei 2020 - 16:41

Terima Bantuan dari Pemrov Riau, Pemkab Siak akan Salurkan BLT kepada 16,800 KK
Kamis, 21 Mei 2020 - 16:33

PKS Curiga Motif Pemerintah Bahas RUU Cipta Kerja saat Reses
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:39

Protes Keras, Palestina Batalkan Seluruh Perjanjian dengan AS dan Israel
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:24

Sudah Seminggu, Pekanbaru Nihil Kasus Baru Positif Covid-19
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:19

Kampar Hanya Kebagian Rp6,2 Miliar Atasi COVID-19, DPRD Riau Sebut Pemprov tak Adil
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:01

Enam Daerah PSBB di Riau Dapat Bantuan Logistik Kesehatan Rp20 Miliar, Begini Penjelasannya
Kamis, 21 Mei 2020 - 14:45

3.150 Karyawan di Riau Kena PHK dan Dirumahkan, Dapat Sembako dari Pemda
Kamis, 21 Mei 2020 - 14:39

Pemburu Semakin Leluasa Manfaatkan Wabah COVID-19, Begini Penjelasan Forum HarimauKita
Kamis, 21 Mei 2020 - 14:30

Habieb Bahar Bin Smith Akan Jalani Sisa Hukuman Hingga November 2021
Selasa, 19 Mei 2020 - 14:59

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com