Home
Anwar Ibrahim Sudah Bikin 6 Gebrakan Baru: Tolak Gaji hingga Ogah Naik Mobil Dinas | Polda Riau Belum Tetapkan Tersangka Kredit Fiktif Rp1,8 Miliar BRK Syariah Capem Duri | Plt Kepala Dinas DPMPD Rohul Tegaskan, Pilkades Sialang Jaya Ditunda | Opening Ceremony Tour De Siak 2022 di Buka Ketua PB ISSI | Bupati Siak: Kendaraan Listrik Transportasi Masa Depan | Pascadeklarasi Anies, Elektabilitas Nasdem Naik 5,2 persen
Selasa, 29 November 2022
/ SainsTech / 09:27:07 / Mengapa Mobil Listrik Mahal Dibanding Mobil Konvensional? /
Mengapa Mobil Listrik Mahal Dibanding Mobil Konvensional?
Kamis, 07 April 2022 - 09:27:07 WIB
TERKAIT:
   
 

JAKARTA  - Semua pabrikan besar otomotif dunia mulai menggenjot produksi serta pemasaran mobil listrik, dan rasanya kebanyakan konsumen juga menginginkannya, cuma harga yang masih mahal dibanding mobil konvensional membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli.

Belum lagi persoalan masih minimnya infrastruktur pendukung, utamanya pengisian daya listrik umum, di jalur-jalur utama. Sejauh ini baru ada beberapa di DKI Jakarta dan sekitarnya, padahal ini perlu ada di seluruh wilayah Indonesia.

Mengesampingkan dulu soal kesiapan infrastruktur, hal lain yang perlu masyarakat ketahui saat ini, salah satunya adalah "mengapa mobil listrik mahal?" Apa yang membuat mobil listrik lebih mahal dibanding kendaraan bermesin pembakaran konvensional?

Menurut studi Financial Times, mobil listrik akan "jauh lebih mahal" bagi pembuat mobil Eropa untuk memproduksinya ketimbang model pembakaran internal sampai setidaknya satu dekade (10 tahun) ke depan.

Meskipun total biaya produksi mobil listrik kompak akan turun lebih dari seperlima pada 2030 menjadi 16.000 euro (Rp254 juta), itu masih 9 persen lebih tinggi daripada mobil bensin atau diesel yang sebanding (di kelasnya), menurut data yang dikumpulkan Oliver Wyman untuk Financial Times.

Biaya pembuatan mobil pembakaran internal diperkirakan tidak akan turun banyak, tetapi mobil itu sendiri semakin mahal karena pembeli menuntut "interior mewah dan bahan yang bersumber lebih berkelanjutan" atau ramah lingkungan, kata para pengamat.

Mobil listrik memang pada saatnya akan mencapai paritas harga dengan model pembakaran internal, hanya saja tidak segera, menurut penelitian tersebut.

Pasar EV

Penjualan mobil listrik (electric vehicle/EV) pada 2021 mencapai 6,75 juta unit, naik 108 persen dibanding 2020, menurut laporan EV Volume. Sementara Statista melaporkan angka sedikit berbeda, yakni 6,6 juta unit, lebih dua kali penjualan 2020 yang berkisar 3 juta unit.

Volume 6,75 juta, laporan EV Volume itu, mencakup kendaraan penumpang, truk ringan, dan kendaraan niaga ringan. Pangsa global EV berbasis baterai dan plug-in hybrid (BEV & PHEV) dalam penjualan kendaraan ringan global adalah 8,3 persen dibandingkan 4,2 persen pada 2020.

BEV mencapai 71 persen dari total penjualan EV, PHEV sebesar 29 persen. Pasar mobil global meningkat hanya 4,7 persen selama tahun krisis 2020. Seperti pada 2020, EV kembali tahan terhadap kemunduran dalam permintaan dan pasokan mobil.

Pertumbuhan mobil listrik memang menggembirakan di tengah pasar mobil global yang relatif stagnan pada 2020 akibat pembatasan dan dampak langsung COVID-19, tapi pada 2021 kembali pada tren yang baik.

China khususnya mengalami tahun terobosan pada 2021, dengan penjualan hampir tiga kali lipat dari 1,2 juta menjadi 3,4 juta unit mobil listrik, menurut Statista.

Eropa tetap menjadi pasar terbesar kedua untuk mobil listrik, dengan pendaftaran baru meningkat hampir 70 persen menjadi 2,3 juta unit, di mana setengahnya merupakan model plug-in hybrid.

Di Amerika Serikat, penjualan melampaui setengah juta untuk pertama kalinya, tetapi pangsa pasar keseluruhan kendaraan listrik tetap jauh di bawah China dan banyak pasar Eropa.

Menurut International Energy Agency (IEA), China, Eropa, dan Amerika Serikat menyumbang sekitar 90 persen dari penjualan mobil listrik global, yang menggambarkan bahwa e-mobilitas tidak berkembang dengan kecepatan yang sama secara global.

Kebijakan pemerintah tetap menjadi kekuatan pendorong utama untuk pasar mobil listrik global, tetapi dinamisme mereka pada tahun 2021 juga mencerminkan tahun yang sangat aktif di industri otomotif.

Tesla sebagai pemimpin di pasar mobil listrik berbasis baterai (BEV) mencatatkan penjualan global 936.000 unit pada 2021, menguasai 21 persen pasar global segmen ini. Penyumbang terbesar penjualan Tesla adalah Model 3 yang dipasarkan dengan harga 35.000 dolar atau sekira Rp503 juta per unit.

Selain Tesla, duduk di lima besar penjualan terbesar mobil listrik tahun lalu adalah Volkswagen Group (757.994 unit), SAIC (termasuk SAIC-GM-Wuling) 683.986 unit, BYD 593.878 unit, dan Stellantis (hasil merger FCA dan PSA) 360.953 unit. Kelimanya mengusai 51 persen pasar global, menurut Inside EVs.

Biaya baterai

Jawaban dari kenapa mobil listrik mahal adalah komponen baterai. Baterai masih menjadi biaya ongkos produksi utama (terbesar) dalam sebuah kendaraan listrik dan akhirnya berpengaruh besar pada harga jual.

Menurut penelitian International Council on Clean Transportation (ICCT) pada 2019, biaya pembuatan sel baterai mencapai hingga 70 persen hingga 75 persen dari total ongkos produksi baterai secara keseluruhan.

Berdasarkan pernyataan produsen mobil Volkswagen, General Motors, dan Tesla, rata-rata biaya produksi baterai berbahan nikel kombalt aluminium oksida (NCA) pada 2018 berkisar antara 100 dolar (Rp1,4 juta) hingga 150 dolar (Rp2,1 juta) per kWh (kilo Watt hour).

Sedangkan untuk yang berbahan nikel mangan kobalt (NMC) yang diproduksi lebih terbatas, biayanya mencapai 150 dolar (Rp1,4 juta) hingga 200 dolar (Rp2,8 juta) per kWh. Artinya, semakin tinggi kapasitas baterai dan semakin jauh jangkauan kendaraan listrik, biayanya kian besar.

Sistem baterai moduler General Motors, Ultium.

Tapi dengan semakin berkembangnya teknologi yang tentu saja dibarengi dengan produksi massal baterai, maka ongkos produksi akan semakin rendah. Ini membutuhkan keseimbangan antara ongkos produksi dengan jumlah produksi yang dihasilkan untuk mencapai harga lebih murah.

Oleh karena itu, kemudian muncul perkiraan ongkos pembuatan baterai yang semakin rendah. Ongkos produksi baterai diperkirakan akan turun menjadi 130 dolar hingga 160 dolar per kWh pada 2020-2022, kemudian menjadi 120 dolar (Rp1,7 juta) hingga 135 dolar (Rp1,9 juta) pada 2025.

Tesla menyatakan akan bisa mencapai 100 dolar/kWh pada tahun 2022, terkait dengan paket baterai berbasis teknologi NCA dan berdasarkan volume produksi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Survei industri BloombergNEF (BNEF) menunjukkan biaya produksi paket baterai akan turun menjadi 62 dolar (Rp891.000) per kWh pada 2030.

Dengan pendekatan kolaborasi produsen otomotif dengan pembuat baterai yang semakin banyak diterapkan belakangan ini, pemilihan bahan dan teknologi yang makin murah, ditambah volume produksi EV yang diperkirakan terus meningkat, jelas bakal membuat ongkos baterai dan harga mobil listrik lebih terjangkau.

Semoga, dengan pasar kendaraan listrik tahun ini--yang menurut perkiraan Gartner--mencapai 6,3 juta unit secara global akan dibarengi dengan harga yang semakin terjangkau serta infrastruktur yang semakin baik di berbagai penjuru negeri di dunia.

(ANTARA)


   
Hadir di Sidang Senat Terbuka Batam Tourism Polytechnic Ini Pesan Bupati Alfedri
Minggu, 27 November 2022 - 16:54

APBD 2023 Disahkan, Balai Kayang Segera Dituntaskan, Dua Ranperda Dalam Pembahasan
Minggu, 27 November 2022 - 16:50

 6 Fakta Banjir Bandang di Jeddah, Makin Sering Terjadi Sejak 13 Tahun Terakhir
Minggu, 27 November 2022 - 08:15

Diserempet Bus, Seorang Anak Tewas di Jembatan Layang Arengka
Minggu, 27 November 2022 - 08:00

Cara Membersihkan File Sampah Biar Laptop Gak Lemot
Minggu, 27 November 2022 - 07:18

Pengamat: Duet Prabowo-Erick Thohir di Pilpres akan Akomodasi Pemilih Lintas Segmen
Minggu, 27 November 2022 - 07:16

Pengamat Nilai Jokowi Isyaratkan Dukung Duet Prabowo-Ganjar
Sabtu, 26 November 2022 - 20:43

KAHMI Muda Deklarasi Erick Thohir sebagai Cawapres 2024
Sabtu, 26 November 2022 - 20:31

Agar Pergerakan Gajah Mudah Dipantau, HK Beli 2 Set Kalung GPS Tahun Ini
Sabtu, 26 November 2022 - 18:45

Beginilah Cara Membangun Ikatan Antara Orang Tua dan Buah Hati
Sabtu, 26 November 2022 - 18:35

5 Bencana Alam Terdahsyat di Dunia, Salah Satunya di Indonesia
Sabtu, 26 November 2022 - 18:08

Sedia Payung Sebelum Hujan, Berikut Prakiraan Cuaca BMKG di Riau Hari Ini
Sabtu, 26 November 2022 - 10:03

Seorang Wanita Melahirkan Tiba-tiba Di Halaman Masjid Nabawi Madinah
Sabtu, 26 November 2022 - 06:53

Gubernur Syamsuar Minta Pemerintah Bangun RS Pusat di Riau
Sabtu, 26 November 2022 - 06:35

Bela Palestina, Sopir Taksi Qatar Usir Jurnalis Israel di Piala Dunia
Sabtu, 26 November 2022 - 06:32

Tindaklanjuti 84 Perusahaan Tanpa Izin HGU, Kejati Riau Tunggu Pembentukan Tim Terpadu
Sabtu, 26 November 2022 - 06:30

Kena Kasus Sodomi, Kenapa Anwar Ibrahim Tetap Banjir Dukungan Jadi PM?
Jumat, 25 November 2022 - 22:04

Siap-siap, 29 November Pebalap Tour de Siak Mulai Datang ke Riau
Jumat, 25 November 2022 - 20:56

5 Situs Download Film Gratis Sub Indo Terbaru, Pengganti Indoxx1 dan LK21!
Jumat, 25 November 2022 - 18:07

 Jatuh dari Jembatan, Pria Lansia Ini Ditemukan tidak Bernyawa
Jumat, 25 November 2022 - 17:57

Dokter: Penanganan Penyakit Jantung Harus Dilakukan di Hulu dan Hilir
Jumat, 25 November 2022 - 17:48

Tour de Siak Jadi Ajang Promosi Pariwisata Provinsi Riau ke Mancanegara
Jumat, 25 November 2022 - 15:43

UMP Riau 2023 Ditetapkan Naik 8,61 Persen, Jadi Rp 3.191.662
Jumat, 25 November 2022 - 15:37

Amplang Udang, Oleh-oleh khas Inhil
Jumat, 25 November 2022 - 13:38

Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2020 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com