Mengapa Allah SWT Menciptakan Setan Padahal tanpa Kehadirannya Manusia Hidup Damai?

JAKARTA - Mungkin kita sering bertanya, andaikan setan itu tidak tercipta, manusia mungkin akan hidup dengan damai? Lalu mengapa Allah SWT menciptakan setan? Apakah ada hikmah di balik penciptaannya?

Hikmah yang dapat dipetik dari penciptaan iblis dan setan sangat beraneka ragam. Sebagian ulama telah menguraikan beberapa hikmahnya, seperti Ibnu Qayyim dan Ibnu Athaillah.

Selain itu, ulama tafsir kontemporer asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi juga menjelaskan hikmah penciptaan setan.

Penciptaan setan yang merupakan keburukan nyata dan serangannya terhadap orang beriman adalah hal yang buruk dan menakutkan. Karena keberadaan setan, kebanyakan manusia masuk kekufuran dan terjerumus ke neraka.

Lalu bagaimana bisa Allah yang Mahapengasih dan Penyayang dan Maha Indah mengizinkan adanya keburukan yang tiada akhir dan musibah besar ini?

Dalam kitabnya yang berjudul Al-Lama’at, Said Nursi menjelaskan bahwa sesungguhnya di balik kejahatan-kejahatan yang tersembunyi dalam diri setan terdapat maksud-maksud terbaik yang lebih besar serta terkandung kesempurnaan yang dapat meningkatkan derajat manusia menuju kesempurnaan.

“Ya, seperti adanya banyak fase pada tumbuhan yang dimulai dari biji hingga menjadi pohon yang tinggi. Begitu pula potensi yang ada dalam diri manusia berupa tingkatan atau derajat yang lebih banyak daripada tumbuhan dari atom hingga matahari,” jelas Nursi dikutip dari buku Al-Lama'at terbitan Risalah Nur Press halaman 141-142.

Agar potensi tersebut berkembang, menurut dia, maka manusia harus “bergerak” dan berinteraksi. Gerakan yang dapat mencapai ketinggian derajat tersebut adalah dengan mujahadah atau perjuangan yang sungguh-sungguh.

Menurut Nursi, Mujahadah hanya akan muncul jika ada setan dan sesuatu yang mengancam. Tanpa mujahadah tersebut martabat manusia pasti statis seperti layaknya malaikat. Pada titik ini tidak akan muncul manusia-manusia pilihan.

“Adalah bertentangan dengan hikmah dan keadilan jika seribu kebaikan diabaikan hanya karena suatu keburukan parsial,” kata Nursi.

Dia melanjutkan, meskipun kebanyakan manusia terjerumus dalam kesesatan akibat tipu daya setan, namun kepentingan dan nilai pada umumnya tergantung pada kualitas tanpa melihat kuantitas kecuali sedikit saja atau malah diabaikan.

Contoh mengenai hal ini adalah adanya seseorang yang mempunyai 1.010 benih lalu ditanam. Lalu 10 benih tumbuh dan 1.000 benih rusak. Manfaat 10 benih yang tumbuh dan berbuah menghilangkan kerugian 1.000 benih yang rusak.

Begitulah manfaat dan derajat yang diperoleh manusia jika ada 10 “manusia sempurna” yang bercahaya laksana bintang gemintang di langit, yang memimpin manusia menuju ketinggian dan kesuksesan, menerangi jalan di hadapan manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan bermujahadah untuk diri mereka dan godaan setan maka pasti manfaat kedudukannya itu mampu menghapus keburukan-keburukan dari orang-orang malang yang berkubang dalam lumpur kekafiran.

“Orang-orang yang sesat itu seperti serangga-serangga yang tak berharga saja layaknya. Karena itu, keadilan serta kasih sayang ilahi meridhai keberadaan setan serta kemampuannya menguasai manusia,” ungkap Nursi.   


Sumber
Republika

TERKAIT