Home
Anwar Ibrahim Sudah Bikin 6 Gebrakan Baru: Tolak Gaji hingga Ogah Naik Mobil Dinas | Polda Riau Belum Tetapkan Tersangka Kredit Fiktif Rp1,8 Miliar BRK Syariah Capem Duri | Plt Kepala Dinas DPMPD Rohul Tegaskan, Pilkades Sialang Jaya Ditunda | Opening Ceremony Tour De Siak 2022 di Buka Ketua PB ISSI | Bupati Siak: Kendaraan Listrik Transportasi Masa Depan | Pascadeklarasi Anies, Elektabilitas Nasdem Naik 5,2 persen
Selasa, 29 November 2022


Menakar Kontribusi Pelabuhan (Bagi) Dumai


Jumat, 20 Januari 2012 - 20:19:51 WIB
DUMAI menjadi harapan baru bagi kemajuan pertumbuhan ekonomi, setelah lepasnya Batam dari Provinsi Riau. Tumpuan harapan ke daerah pesisir ini dikarenakan Dumai memiliki letak strategis dan didukung keberadaan pelabuhan, yang diyakini mampu menjadi gerbang utama perekonomian daerah.

Keinginan Pemerintah Provinsi Riau itu sejalan dengan visi pembangunan Kota Dumai, yaitu terwujudnya Kota Dumai Sebagai Pusat Pelayanan "Pengantin" (Pelabuhan, Perdagangan, Tourism, dan Industri) yang "Berseri" (Bersih, Semarak, Rukun, dan Indah) di Kawasan Pantai Timur Sumatera Sebagai Penggerak Kemajuan Ekonomi dan Budaya Melayu yang Agamis menuju Dumai Kota "Sehat" (Sejahtera, Harmonis, Aman dan Tertib ) pada Tahun 2020.

Gayung pun bersambut. Pemerintah pusat juga menyadari arti pentingnya Kota Dumai sebagai wilayah baru bagi pertumbunhan ekonomi daerah Riau khusunya dan bahkan juga bagi daerah sekitarnya di wilayah Sumatera. Berbagai program dirancang untuk mendukung terealisasinya harapan itu.

Selain telah mencanangkan Klaster Industri Sawit di daerah ini bersama Kuala Enok di Kabupaten Indrigiri Hilir beberapa waktu lalu, pemerintah pusat juga telah memasukkan Kota Dumai sebagai salah satu daerah koridor ekonomi wilayah Sumatera. Hal itu telah dirancang dalam program Master Plan Percepatan, Perluasan, Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dimana prioritas pembangunan disesuaikan dengan potensi terbesar yang dimiliki daerah ini.

Kota Dumai yang berjarak sekira 200 kilo meter dari Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau, memiliki potensi besar di bidang kepelabuhan. Baik pelabuhan penumpang domestik dan internasional, maupun pelabuhan umum. Apalagi, Pelabuhan Dumai didukung daerah sekitar (Hinterland), yang pada umumnya merupakan daerah penghasil komoditi ekspor dari produk pertanian, perkebunan, pertambangan, pariwisata, dan industri lainnya.

Keberadaan Pelabuhan Dumai ibarat sebutir gula yang dikerumuni semut. Seiiring pesatnya perkembangan Pelabuhan Dumai di bawah pengelolaan PT Pelabuhan Indonesia I Cabang Dumai ini, wiayah sekitar pelabuhan pun berkembang begitu cepat sebagai daerah industri. Berbagai perusahaan industri, terutama industri pengelolaan minyak sawit dan turunannya, hadir di beberapa kawasan industri daerah ini.

Untuk menunjang efek domino dari keberadaan Pelabuhan Dumai tersebut, Pemerintah Kota Dumai terus berupaya menggenjot perkembangan investasi, yang ditunjang dengan ketersediaan kawasan indusri. Beberapa kawasan industri yang dipersiapkan meliputi Kawasan Industri Pelintung seluas 5.084 hektare, Kawasan Industri Lubuk Gaung seluas 2.158 hektare, Kawasan Industri Terpadu Dock Yard, dan Kawasan Industri Bukit Kapur seluas 115 hektare.

Perkembangan Pelabuhan Dumai memang begitu pesat. Berawal dari hanya sekadar tempat persinggahan para nelayan, kemudian berkembang menjadi tempat persinggahan kapal-kapal kecil milik pedagang antarpulau, hingga akhirnya menjadi tempat persinggahan kapal-kapal besar. Ini mulai dirasakan setelah masuknya perusahaan ekplorasi minyak di daerah ini.

Kini, Pelabuhan Dumai menuju pelabuhan internasional, khususnya untuk kegiatan ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya. Sebab, Pelabuhan Dumai didukung oleh hinterland di sepanjang daratan Provinsi Riau hingga ke perbatasan Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jambi. Kondisi itu benar-benar menuntut Pelabuhan Dumai menjadi gerbang utama perekonomian daerah Provinsi Riau.

Data dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Investasi (Disperindagin) Kota Dumai menyebutkan, ekspor CPO melalui Pelabuhan Dumai telah menjangkau hingga 80-an negara di Dunia. Sedangkan data dari PT Pelindo Cabang Dumai menyebutkan, total bongkar CPO dan turunannya dari dan ke Pelabuhan Dumai sejak Januari hingga Agustus tahun 2011 mencapai empat juta ton.

Ini merupakan prestasi Pelabuhan Dumai sebagai pelabuhan pengekspor CPO terbesar di Indonesia. Apalagi, karena produksi CPO nasional sebagian besarnya memang berasal dari Provinsi Riau. Sebagaimana disebutkan Gubnernur Riau Rusli Zainal beberapa waktu lalu dalam suatu kesempatan di hadapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurutnya, sekitar 36 persen dari luas kebun kelapa sawit nasional berada di Provinsi Riau. Luas kebun kelapa sawit di Provinsi Riau sendiri mencapai 2,3 juta hektare. Tak heran, dari kebun kelapa sawit di Provinsi Riau, telah diekspor CPO sebanyak sekitar 7 juta metric ton pada tahun lalu. Sementara tahun ini diperkirakan mencapai 15 juta metric ton.*

Menuju Pelabuhan Terbesar di Sumatera

Tak berhenti sampai di situ. Mimpi menjadikan Pelabuhan Dumai sebagai pelabuhan terbesar terus digaungkan. Ketua Program Master Plan Percepatan, Perluasan, Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Wilayah Sumatera Zulkifli Hasan menyebutkan, Pelabuhan Dumai diprioritaskan menjadi pelabuhan terbesar di Sumatera.

"Saat ini, tim sedang mengkaji dan berupaya untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan agar prioritas menjadikan Pelabuhan Dumai sebagai pelabuhan terbesar di wilayah Sumatera dapat direalisasikan," ujar politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu, beberapa waktu lalu dalam suatu kesempatan saat berkunjung ke Dumai.

Keinginan mewujudkan Pelabuhan Dumai menjadi pelabuhan terbesar bukanlah isapan jempol belaka. Hal itu ditegaskan pihak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia, yang berjanji akan mempersiapkan berbagai infrastrktur, terutama jalan, demi mendukung kesiapannya.

Kepala Pusat Kajian Strategis Kementrian PU Hediyanto Husaini mengatakan dalam rangka untuk merancang program pembangunan ke depan di beberapa daerah di Indonesia yang masuk dalam koridor ekonomi Indonesia, termasuk Kota Dumai di wilayah Sumatera, pihaknya akan berupaya mempersiapkan fasilitas inftrastruktur yang dibutuhkan.

Menurutnya, Kota Dumai merupakan daerah potensial bagi kemajuan ekonomi Indonesia, karena didukung pelabuhan yang memiliki prosfek untuk terus dikembangkan. Untuk memperlancar akses menuju pelabuhan dan kawasan industri lainnya, pemerintah punya tanggung jawab untuk membangun infrastruktur jalan yang memadai di daerah ini.

"Kondisi infrastruktur jalan di daerah ini sangat kontradiktif dengan potensi yang dimiliki, sebagai daerah pelabuhan dan kawasan industri. Karena itu, pemerintah pusat mesti mengatasi persoalan infrastruktur jalan ini," ujar dia ketika dikonfirmasi baru-baru ini saat berkunjung ke Dumai.

Dia menegaskan, kondisi jalan yang tak layak seperti saat ini, jelas sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi di wilayah pelabuhan, kawasan industri, serta ekonomi masyarakat daerah tersebut. Karena itu, pembangunan infrastruktur jalan yang memadai adalah mutlak untuk dilaksanakan. Dia pun menyampaikan tekad untuk mempersiapkan infrastruktur jalan yang memadai selama sisa waktu kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga tahun 2014.

Selain infrastruktur, kata mantan Kepala Dinas PU Sumatera Barat itu, persoalan regulasi dan potensi Sumber Daya Manusia (SDM), juga menjadi fokus pemerintah ke depan demi mewujudkan harapan menjadikan Dumai sebagai salah satu daerah yang masuk dalam koridor ekonomi wilayah Sumatera. Dimana pelabuhan menjadi potensi besar yang diprioritaskan.

Pemerintah, baik pusat dan daerah, sudah dan terus berupaya untuk mendukung perkembangan dan kemajuan Pelabuhan Dumai, dengan harapan pelabuhan di wilayah pesisir Sumatera ini benar-benar mampu menjadi gerbang ekonomi bagi Provinsi Riau khususnya dan daerah-daerah lain di sekitarnya.

Kini, bagaimana peran PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) selaku operator usaha di bidang penyelenggaraan dan pengusahaan jasa kepelabuhanan? Sebab, mustahil harapan muwujudkan pelabuhan terbesar, yang mampu menjadi gerbang ekonomi suatu negara, bila penangannya tak dilakukan dengan baik dan profesional.

Tekad Pelindo Tingkatkan Pelayanan

Tak dapat dipungkiri bahwa eksistensi Pelabuhan Dumai masih menjadi sorotan banyak pihak, terutama bagi penguna jasa. Apalagi, infrastruktur yang ada masih menjadi kendala, sehingga berdampak bagi peningkatan biaya dalam aktifitas bongkar muat di pelabuhan. Ini tentunya harus segera menjadi perhatian.

Faslitas pelabuhan dinilai tak sebanding dengan kunjungan kapal di Pelabuhan Dumai. Kenyataan itu membuat pengguna jasa kepelabuhan seringkali mengeluhkan waktu tunggu kapal untuk bersandar, ditambah lagi profesionalisme pelayanan yang ada. Dimana makin lamanya waktu tunggu dan masa tambat kapal, serta kurang profesionalnya tenaga operator kepelabuhan dan pihak terkait lainnya mebuat pengguna jasa harus menanggung beban biaya ekstra.

Pihak PT Pelindo I Cabang Dumai tak menamfik fakta itu. Menurut mereka, rendahnya kapasitas infrastruktur pelabuhan tidak hanya dialami Pelabuhan Dumai, tapi juga berbagai pelabuhan besar lainnya di Indonesia. Menyadari hal itu, tahap demi tahap pembenahan terus dilakukan, seperti penambahan pembangunan dermaga, maupun peningkatan manajemen, dan fasilitas lainnya.

PT Pelindo I (Persero) terus berbenah dengan menambah panjang dermaga khusus Crude Palm Oil (CPO) sepanjang 400 meter di Pelabuhan Dumai. Melalui perpanjangan dermaga tersebut, Pelabuhan Dumai akan memiliki operations excellence dan execution excellence dalam melayani pelanggan.

Apalagi, status dermaga A, B dan C telah resmi menjadi kawasan kepabeanan dengan keluarnya Keputusan Menteri Keuangan Nomor: KM-12/WBC.03/2011 pada 24 Oktober 2011 lalu. Dengan perubahan status itu, kegiatan eksport dan import melalui dermaga umum Pelabuhan Dumai akan lebih lancar dari sebelumnya.

"Perubahan status menjadi kawasan pabean jelas berdampak positip bagi pelaku usaha dalam memobilisasi barang eksport dan import, karena ada kemudahan bagi pengguna jasa dalam hal pengurusan izin. Hal itu akan berdampak menurunnya idle time," ujar Harianja, General Manager PT Pelindo I Cabang Dumai, kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Selain itu, kata dia, awal tahun 2012 nanti, Terminal Curah Kering (TCK) di Pelabuhan Dumai akan dioperasikan. Itu berarti bahwa kapasitas terminal bongkar muat curah kering akan meningkat tajam, yang diperkirakan mencapai 500 persen. Dimana akan mencapai 8.000 ton per hari, dari 1.200 ton per hari saat ini.

Menurutnya, pembangunan TCK diharapkan akan meningkatkan kegiatan ekspor dan impor barang curah kering, sehingga berdampak luas bagi perbaikan ekonomi masyarakat. Selain itu, pengoperasian TCK ini akan menekan biaya, baik biaya labuh, tambat, dan operasional.

Fasilitas pendukung TCK, seperti gudang sudah selesai dan siap dioperasikan. Pembangunan conveyor pun hampir rampung. Pemasangan roller dan belthing pun dilakukan. Sebelum menggunakan conveyor, untuk muatan 8.000 ton palm kernel ekspeller (PKE) dibutuhkan masa tambat 3,75 etmal (3,6 hari) dengan kapasitas 1.200 ton per hari.

"Dengan menggunakan conveyor, masa tambat kapal bakal berkurang 2,6 hari menjadi 1 hari. Pasalnya, kapasitas terminal bongkar muat menggunakan conveyor mencapai 8.000 ton per hari," ucap dia.

Begitu pula, agar proses bongkar muat CPO dan turunannya sesuai dengan harapan pengguna jasa, sistem pemuatan CPO yang dilakukan Pelindo Dumai tidak lagi menggunakan truck losing, tapi dengan sistem pipanisasi. Jumlah pipa yang tersedia sebanyak 46 jalur dengan kemampuan pompa hingga 250 ton per jam. Pipa-pipa tersebut disambungkan dengan tangki timbun CPO para shipper yang ada di Pelabuhan Dumai.

Sementara itu, Humas Pelindo Cabang Dumai Harlem Purba mengatakan sejalan dengan keinginan pemerintah untuk mewujudkan Pelabuhan Dumai sebagai pelabuhan terbesar dan gerbang utama ekonomi daerah, Pelindo I Cabang Dumai di bawah Pelindo I Medan terus berbenah diri dari berbagai asfek. Bahkan, perlu merancang Pelabuhan Dumai menjadi hubport CPO.

"Bila ditinjau dari kacamata matematika jumlah ekspor, produksi, terutama luas lahan kebun sawit di daerah hinterland, Pelabuhan Dumai memang layak dijadikan sebagai hubport dan turunannya dari Indonesia," kata dia kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Dia menegaskan, pembentukan hubport CPO dan turunannya sangat perlu dilakukan mengingat Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia. Bila ini terjadi, maka posisi tawar harga CPO hasil produk Indonesia di pasar international akan lebih kuat. Hal itu jelas juga bakal berdampak bagi pertumbuhan ekonomi di daerah, yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai perusahaan BUMN yang fokus pada bidang usahanya, PT Pelindo I Cabang Dumai juga ikut berkontribusi bagi masyarakat sekitar dan lingkungan. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Pelindo Dumai bertekad ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini diwujudkan dengan penyaluran dana Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) dan dana ekonomi kerakyatan bagi mitra usahanya.

"Tekad dan kepedulian Pelindo Dumai patut mendapat apresiasi dan pelu ditingkatkan, sehingga mampu meningkatkan kesejahtraan masyarakat daerah," ujar Syafriadi Husin, warga yang berdomisili di sekitar wilayah Pelabuhan.(dumaizone)

 
   
Sorot : Index
Mutu Karya Sastra Sumatera Barat Diperta...
Cucu Pendiri Republik yang Diburu Polri...
Google dan Film Penista Islam...
Prabowo Subianto RI-1, Tapi Syaratnya......
Triliunan Dana Olahraga Lahirkan Korupsi...
PT Dirgantara Indonesia Garap Proyek Rp ...
Menakar Kenegarawanan Ical & Akbar...
KPK di Persimpangan Jalan...
Kawasan Budaya VS Kawasan Bisnis...
 
 
 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2020 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com