Home
Saipul Hadi, Unggul Telak dengan 1807 Suara Pilkades Bangun Purba Timur Jaya928 | UMK Dumai Terbesar di Riau Rp3.723.278 | Nekat Deklarasi Anies di Riau, Tujuh Kader PAN Ditegur | PT Surya Dumai Agrindo Diduga Belum Kantongi Izin PKS di Bukit Batu | Ketua PBSI Inhil Lepas 2 Atlit Bulu Tangkis ke Kejurnas di Jakarta | Survei Temukan Kriteria Pria Idaman Wanita Indonesia: Harus Wangi
Jum'at, 09 Desember 2022
/ Lifestyle / 07:55:11 / Pakar Ikatan Ahli Kesehatan meminta studi luas soal bahaya galon guna ulang /
Pakar Ikatan Ahli Kesehatan meminta studi luas soal bahaya galon guna ulang
Rabu, 23 November 2022 - 07:55:11 WIB
TERKAIT:
   
 

JAKARTA -- Narasi bahaya Bisfenol A (BPA) dalam kemasan galon air minum masih minim bukti ilmiah. Hal ini karena penelitian tentang BPA dilakukan kemasan yang bukan kemasan galon air.

Selain itu, penelitian di Indonesia tentang BPA galon air juga bukan kadar BPA di dalam air galon tapi penelitian di laboratorium tentang potensi migrasi BPA dari kemasan galon menggunakan proses perendaman dg etanol dan dipanaskan 60° celcius di oven laboratorium selama 10 hari.

Hal tersebut dikatakan Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat, Hermawan Saputra. Hermawan mengatakan belum ada bukti yang cukup kuat untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa kemasan galon guna ulang berbahan Polikarbonat membahayakan kesehatan masyarakat atau para konsumennya. Sebelum menyampaikan isu kesehatan masyarakat, menurutnya, harus dilihat terlebih dahulu seluruh kejadiannya, fenomena, dan faktanya atau evidence based public health.

“Dalam kaitannya dengan kepentingan publik dan yang berdampak pada kesehatan, harus kita lihat dulu apakah betul ada bukti sebelumnya. Nah, kalau kita bicara pemakaian galon guna ulang, harus dilihat sudahkah pernah ada suatu fenomena atau kejadian yang memang hasil penyelidikannya berdampak luas dan memang terjadi kasus yang signifikan di masyarakat,” ujarnya, Selasa (22/11/2022).

Menurutnya, semua produk tanpa terkecuali memang perlu dilihat bagaimana dampaknya terhadap para konsumen, mulai dari produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan kata lain, semua industri yang relevansinya akan berdampak pada kesehatan masyarakat harus ada kendali pada produksi, distribusi, dan konsumsi.

“Nah, itu sebabnya ada standarisasi produk, ada izin edar produk, dan itu ketat sekali,” ucapnya. Hermawan menyebut kesimpulan akhir atau final conclusion itu harus didahului dengan penyelidikan. Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari ketidaktepatan regulasi seandainya regulasi itu dikeluarkan. 

“Nah, dalam kaitannya dengan BPA galon guna ulang, dari kasus konsumsinya, kami melihat belum ada evidence based yang cukup,” katanya.

Menurut Hermawan, kalau memang ada indikasi zat berbahaya pada suatu produk tertentu, solusinya bukan pada pelabelannya tetapi pada produksi dan distribusinya. “Maka, secara isu publik, kalau memang ada zat berbahaya dari kandungan sebuah produk apalagi itu pangan atau makanan dan minuman, itu solusinya bukan pada labelnya, tetapi harusnya pada produksinya. Jadi bukan pada kendali perilaku, kalau berbahaya harus dikendalikan dari produksi dan distribusi,” ucapnya.

Dia menegaskan tidak boleh mencoba-coba produk yang digulirkan hanya sekadar melabeli. Hal itu mengingat masyarakat yang asimetris informasi yang tidak mungkin mengetahui kandungan zat kimia yang luar biasa, apalagi tahapannya itu berkaitan dengan bahan baku dan bukan bahan jadi.

“Kalau kita bicara galon, kan yang dibicarakan produk jadinya. Produk jadi itu bisa aman tapi bahan bakunya yang tidak aman. Jadi, di situlah memang dari perspektifnya,” ucapnya.

Jadi, dia melihat sebuah keanehan jika pejabat BPOM menyampaikan pelabelan berpotensi mengandung BPA terhadap galon guna ulang berkaitan dengan kendali distribusi.

“Yang ingin dilabeli itu katanya distributor yang memiliki izin edar, jadi tidak pada depot-depot air minum tertentu. Artinya, kendali distribusi ini harusnya menyangkut merapikan industri itu sendiri, tetapi sisi lain kita memang agak unik kalau itu diserahkan pada perilaku masyarakat yang asimetris informasi,” ucapnya.

“Jadi, kami secara kesmas melihat pelabelan BPA tidak terlalu efektif. Lebih baik tidak usah. Kalau memang ada zat yang dikhawatirkan, itu seharusnya yang diawasi pada produksi dan distribusinya saja,” ucapnya.

“Kalau BPOM sendiri sudah memberikan lampu kuning bahwa botol atau galon tertentu walau berbahan dasar zat kimia yang berbahaya, tetapi ketika menjadi produk jadinya aman dan bisa dikonsumsi, kenapa kita harus khawatir dengan kendali perilaku? Pada akhirnya di sini yang harus menjadi perhatian dan keadilan adalah dari segi perhatian regulasinya,” ucapnya.

Sumber:
Republika


   
Bekas Arena Dayung di Kuansing Jadi Lokasi Penambangan Emas Ilegal
Rabu, 07 Desember 2022 - 09:36

Objek Wisata di Sijunjung Sumbar
Wahana Telabang Sakti Sijunjung, Dilengkapi Area Bermain dan Penginapan
Rabu, 07 Desember 2022 - 09:19

Aurat Wanita yang Boleh Terlihat Mahram Menurut Empat Mazhab
Rabu, 07 Desember 2022 - 08:44

 Hujan Disertai Angin Kencang Berpotensi Mengguyur Riau
Rabu, 07 Desember 2022 - 08:33

 Perusahaan Elon Musk Neuralink Diduga Bunuh 1.500 Hewan untuk Uji Coba Chip di Otak
Rabu, 07 Desember 2022 - 08:28

Jadwal 8 Besar Piala Dunia 2022: Maroko di Antara Para Raksasa, Siapa Lawan Siapa?
Rabu, 07 Desember 2022 - 08:21

Imigrasi Siak Buka Layanan Pengurusan Paspor Jamaah Calon Haji di Akhir Pekan
Rabu, 07 Desember 2022 - 08:11

Realisasi Keuangan APBD Riau 76,64 Persen
Selasa, 06 Desember 2022 - 22:23

Akibat Calon Istri Minta Mahar Sertifikat Tanah? Ini Saran Psikolog Keluarga
Selasa, 06 Desember 2022 - 22:14

Alhamdulillah Harga TBS Sawit di Riau Naik Lagi, Ini Daftar Harganya
Selasa, 06 Desember 2022 - 19:53

6,8 Juta Batang Rokok Ilegal Dimusnahkan Bea Cukai Dumai
Selasa, 06 Desember 2022 - 19:47

Pemda Dihimbau Terapkan Digitalisasi Keuangan, Bupati Siak: Sudah Mulai Laksanakan
Selasa, 06 Desember 2022 - 18:38

Putin Teken Undang-undang Larang Propaganda LGBT di Rusia
Selasa, 06 Desember 2022 - 18:35

Seminggu Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Warga di Tesso Gunung Sahilan, BKSDA Kemana?
Selasa, 06 Desember 2022 - 16:41

Edi Zulman Dinilai Pilihan Tepat dan Ideal Untuk Calon Kades Pematang Berangan
Selasa, 06 Desember 2022 - 12:09

Tiket Tambahan Tur Konser Westlife di Jakarta akan Dijual Mulai Sabtu
Selasa, 06 Desember 2022 - 12:05

Tarif Tol Pekanbaru-Bangkinang Ditetapkan Paling Rendah Rp33.500, Selengkapnya Cek di Sini
Selasa, 06 Desember 2022 - 11:59

Bikin Netizen Sewot!
Viral Lelaki Meninggal Karena Kerja Keras, Harta Dinikmati Istri dan Suami Barunya
Selasa, 06 Desember 2022 - 06:04

Tujuh Alasan Mengapa Nikah Mutah Diharamkan Sampai Hari Kiamat
Selasa, 06 Desember 2022 - 05:55

Hasil Lengkap, Klasemen, dan Top Skor Piala Dunia 2022
Selasa, 06 Desember 2022 - 05:50

Diduga Terbitkan Surat Tanah Palsu, Kades di Siak Dilaporkan ke Polda Riau
Selasa, 06 Desember 2022 - 05:39

Gawat, Timnas Spanyol Latihan 1.000 Kali Penalti
Selasa, 06 Desember 2022 - 05:31

Ujian Seleksi PPPK Nakes Pemprov Riau Dimulai Besok, Cek Disini Lokasinya
Senin, 05 Desember 2022 - 20:54

Minta Dirut Garuda Evaluasi Aturan Pakaian Pramugari, Politisi Gerindra: Yang Berjilbab Tak Ada
Senin, 05 Desember 2022 - 20:51

Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2020 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com